Dragonfly 管ajemen kemitraan Haseeb sendiri turun tangan untuk meluruskan kontroversi VVV, dan sebenarnya informasinya cukup banyak.

Poin-poin inti yang patut dicatat:
- Venice adalah perusahaan tersentralisasi, bukan jaringan terdesentralisasi; jangan lagi memaksakan kerangka penilaian "token protokol"
- VVV tidak mewakili kepemilikan perusahaan, bukan juga bukti ekuitas; pemegangnya tidak menikmati hak-hak pemegang saham
- Kegunaan nyata VVV: menggadai/mem-parkir untuk mencetak DIEM, lalu sebagai imbalan untuk mendapatkan hak penggunaan daya komputasi untuk penalaran AI Venice, termasuk hak atas produk seperti Venice Pro
- Logika penangkapan nilai memakai jalur "pendapatan bisnis untuk buyback dan kemudian dibakar", dengan mengencangkan pasokan lewat arus kas
- Perusahaan sebelumnya sudah menyelesaikan pendanaan ekuitas tradisional (Putaran A senilai 65 juta dolar, dipimpin oleh Dragonfly); pendiri tidak akan memberikan ekuitas secara cuma-cuma kepada pemegang token

Menurut saya: ini adalah contoh yang sangat tipikal dari koreksi narasi "AI×Token". Pasar biasanya terbiasa mengasumsikan proyek yang menyertakan token akan dinilai sebagai DAO atau protokol, tetapi Venice secara tegas mendefinisikan dirinya sebagai perusahaan produk + bukti hak penggunaan, sehingga VVV lebih mirip "token konsumsi dengan pembayaran di muka + buyback yang bersifat deflasi"—bukan aset berbasis ekuitas.

Bagi pemegangnya, ada dua hal yang perlu dipikirkan dengan jernih: pertama, apakah pertumbuhan kebutuhan komputasi benar-benar mampu menutup konsumsi nyata DIEM; kedua, apakah kekuatan buyback dan burn cukup untuk menyeimbangkan laju pelepasan. Jika hanya menganggapnya sebagai pengganti ekuitas untuk mengejar valuasi perusahaan, ekspektasinya jelas tidak sinkron.

Jalur penerbitan token oleh perusahaan tersentralisasi: transparansi dan pengungkapan informasi justru lebih penting daripada "pseudo-desentralisasi".

#Venice #AI叙事 #ekonomi token