Meta mengakui perkembangan AI belum memenuhi ekspektasi—itu masuk akal.
Bukan karena kelebihan daya hitung yang bisa dibiarkan sampai habis lalu dijual, melainkan karena AI di sisi konsumen belum benar-benar berkembang. Ratusan miliar capex lebih dari seribu sekian miliar itu malah jadi kartu yang berputar dan membakar uang. Mau tak mau, mereka menyewakan keluar agar balik modal—memang benar-benar tidak ada cara lain.
Zuckerberg tetap keras kepala, mengatakan bahwa di jalan menuju superinteligensi, hasil terbaik belum datang; soal dia mengakui pemangkasan karyawan yang serampangan itu, ya dia akui. Tapi dia tidak mau mengakui kalah.
Terlalu abstrak: $META.US selama ini, metaverse justru membuat orang-orang sombong keok; investasi pada Manus ditarik oleh pihak Dongda; pemangkasan besar-besaran ditambah kegagalan AI malah ikut bikin harga saham AS ambles.
Layak disebut—“Baidu” versi Amerika Utara.
Bukan karena kelebihan daya hitung yang bisa dibiarkan sampai habis lalu dijual, melainkan karena AI di sisi konsumen belum benar-benar berkembang. Ratusan miliar capex lebih dari seribu sekian miliar itu malah jadi kartu yang berputar dan membakar uang. Mau tak mau, mereka menyewakan keluar agar balik modal—memang benar-benar tidak ada cara lain.
Zuckerberg tetap keras kepala, mengatakan bahwa di jalan menuju superinteligensi, hasil terbaik belum datang; soal dia mengakui pemangkasan karyawan yang serampangan itu, ya dia akui. Tapi dia tidak mau mengakui kalah.
Terlalu abstrak: $META.US selama ini, metaverse justru membuat orang-orang sombong keok; investasi pada Manus ditarik oleh pihak Dongda; pemangkasan besar-besaran ditambah kegagalan AI malah ikut bikin harga saham AS ambles.
Layak disebut—“Baidu” versi Amerika Utara.
