#newt $NEWT
Kebanyakan pembahasan tentang AI dalam Web3 berfokus pada satu pertanyaan:
Bisakah AI mengambil keputusan yang lebih baik daripada manusia?
Setelah menghabiskan waktu mempelajari arsitektur blockchain yang berfokus pada AI, saya justru mendapati diri bertanya pertanyaan yang berbeda:
Siapa yang memutuskan kapan sebuah AI tidak boleh diizinkan untuk bertindak?
Perbedaan itu terasa lebih penting daripada yang tampak pada awalnya.
Tanda tangan dompet membuktikan siapa yang mengirimkan sebuah transaksi, tetapi tidak menjelaskan apakah transaksi tersebut masih masuk akal dalam kondisi pasar yang berubah, batas risiko, atau aturan tata kelola.
Itulah mengapa otorisasi yang dapat diprogram menarik perhatian saya. Alih-alih memberikan izin tak terbatas kepada AI setelah dideploy, kebijakan dapat terus mengevaluasi apakah tindakannya memenuhi kondisi yang telah ditetapkan sebelum dieksekusi.
Kompromi yang menarik adalah bahwa otorisasi yang lebih cerdas bergantung pada konteks yang lebih baik. Jika kebijakan bersandar pada data eksternal, kepercayaan tidak hilang—melainkan berpindah ke kualitas dan keandalan informasi tersebut.
Semakin saya memikirkannya, semakin ini terasa bukan sekadar masalah AI, melainkan masalah tata kelola (governance).
Saat agen otonom menjadi semakin mampu, mungkin tantangan yang sesungguhnya bukanlah membangun AI yang lebih cerdas—melainkan merancang batas yang lebih cerdas tentang apa yang diizinkan untuk dilakukan oleh AI.
Menurut Anda, apa yang akan lebih penting dalam jangka panjang: agen AI yang lebih cerdas atau kebijakan otorisasi yang lebih cerdas?
@NewtonProtocol #NEWT $NEWT
Kebanyakan pembahasan tentang AI dalam Web3 berfokus pada satu pertanyaan:
Bisakah AI mengambil keputusan yang lebih baik daripada manusia?
Setelah menghabiskan waktu mempelajari arsitektur blockchain yang berfokus pada AI, saya justru mendapati diri bertanya pertanyaan yang berbeda:
Siapa yang memutuskan kapan sebuah AI tidak boleh diizinkan untuk bertindak?
Perbedaan itu terasa lebih penting daripada yang tampak pada awalnya.
Tanda tangan dompet membuktikan siapa yang mengirimkan sebuah transaksi, tetapi tidak menjelaskan apakah transaksi tersebut masih masuk akal dalam kondisi pasar yang berubah, batas risiko, atau aturan tata kelola.
Itulah mengapa otorisasi yang dapat diprogram menarik perhatian saya. Alih-alih memberikan izin tak terbatas kepada AI setelah dideploy, kebijakan dapat terus mengevaluasi apakah tindakannya memenuhi kondisi yang telah ditetapkan sebelum dieksekusi.
Kompromi yang menarik adalah bahwa otorisasi yang lebih cerdas bergantung pada konteks yang lebih baik. Jika kebijakan bersandar pada data eksternal, kepercayaan tidak hilang—melainkan berpindah ke kualitas dan keandalan informasi tersebut.
Semakin saya memikirkannya, semakin ini terasa bukan sekadar masalah AI, melainkan masalah tata kelola (governance).
Saat agen otonom menjadi semakin mampu, mungkin tantangan yang sesungguhnya bukanlah membangun AI yang lebih cerdas—melainkan merancang batas yang lebih cerdas tentang apa yang diizinkan untuk dilakukan oleh AI.
Menurut Anda, apa yang akan lebih penting dalam jangka panjang: agen AI yang lebih cerdas atau kebijakan otorisasi yang lebih cerdas?
@NewtonProtocol #NEWT $NEWT
