Kamu adalah orang pertama di keluargamu yang membuka grafik K-Line.
Tidak ada yang mengajarimu, dan tidak ada yang memahammu.
Kalau kamu “kui” (kalah/tertekan), mereka akan bilang, “kami sudah bilang sejak dulu.”
Kalau kamu “🧱” (kembali/terjatuh), mereka akan bilang, “datangnya karena keberuntungan; cepat atau lambat kamu pasti ‘kui’ balik.”
Tapi, kenapa kamu masih harus bertahan?
Karena kamu pernah melihat sendiri para pendahulumu.
Mereka menyerahkan takdir kepada tanah, kepada pabrik, kepada waktu!
Lalu bagaimana denganmu?
Kamu ingin menyerahkan takdir pada pikiranmu sendiri. Kamu berani berhadapan langsung dengan aturan-aturan di dunia ini.
Kamulah penjelajah jalan bagi keluargamu, kamulah yang membangunkan keluargamu.
Meski jalan ini mungkin tidak sampai ke ujungnya, suatu hari nanti di masa depan, anakmu akan tahu—ayahnya pernah melangkah ke jalan ini demi dia.
Tidak ada yang mengajarimu, dan tidak ada yang memahammu.
Kalau kamu “kui” (kalah/tertekan), mereka akan bilang, “kami sudah bilang sejak dulu.”
Kalau kamu “🧱” (kembali/terjatuh), mereka akan bilang, “datangnya karena keberuntungan; cepat atau lambat kamu pasti ‘kui’ balik.”
Tapi, kenapa kamu masih harus bertahan?
Karena kamu pernah melihat sendiri para pendahulumu.
Mereka menyerahkan takdir kepada tanah, kepada pabrik, kepada waktu!
Lalu bagaimana denganmu?
Kamu ingin menyerahkan takdir pada pikiranmu sendiri. Kamu berani berhadapan langsung dengan aturan-aturan di dunia ini.
Kamulah penjelajah jalan bagi keluargamu, kamulah yang membangunkan keluargamu.
Meski jalan ini mungkin tidak sampai ke ujungnya, suatu hari nanti di masa depan, anakmu akan tahu—ayahnya pernah melangkah ke jalan ini demi dia.