Air mata Batavia (atau tetesan Pangeran Rupert) adalah fenomena kaca yang menakjubkan, yang dengan jelas menunjukkan kekuatan dan kerentanan tegangan internal bahan.

Mereka terbentuk ketika setetes kaca cair dijatuhkan ke dalam air dingin.

Kaca langsung mendingin di luar, membentuk kulit keras, sementara inti yang panas mendingin lebih lambat dan menyusut, menarik lapisan luar ke dalam.

Karena ini, di dalam tetesan tercipta tegangan mekanik yang sangat besar.

Nama fenomena ini adalah contoh klasik bagaimana nama seseorang masuk ke dalam sejarah, yang tidak menciptakan objek, tetapi tepat waktu menunjukkan kepada orang-orang yang membutuhkannya.
Berikut dua sifat utama yang sepenuhnya berlawanan dari tetesan ini:
Kekuatan luar biasa 'kepala':

Di bagian bulat dan tebal dari tetesan, Anda bisa memukulnya dengan palu, menembaknya dengan pistol, atau mencoba menghancurkannya dengan press hidrolik — ia akan tetap utuh. Lapisan luar terkompresi dengan sangat kuat sehingga hampir tidak bisa dihancurkan.
Kerapuhan mutlak 'ekor':

Tetesan memiliki ekor panjang, tipis, dan melengkung. Jika sedikit patah atau bahkan hanya tergores, keseimbangan kekuatan segera terganggu. Tegangan internal yang sangat besar dilepaskan, dan seluruh tetesan meledak dalam sekejap, berubah menjadi debu kaca halus. Kecepatan penyebaran retakan ini lebih dari 1,5 km/detik (sekitar 5400 km/jam).

Ini adalah salah satu contoh fisik paling mencolok tentang bagaimana tempering dan distribusi kekuatan internal dapat mengubah sifat bahan rapuh yang kita kenal.
Bagaimana mereka bisa 'diciptakan'?
Semua ini dimulai di pabrik kaca di Eropa Utara (terutama di Mecklenburg dan Belanda) pada awal abad ke-17.

Proses tiup kaca membutuhkan panas yang ekstrem. Di dekat setiap tungku peleburan, pengrajin kaca selalu memiliki ember atau bak dengan air dingin — mereka diperlukan untuk mendinginkan alat (pipa, penjepit) dan segera memadamkan kebakaran yang tidak disengaja.

Ketika pengrajin menyelesaikan pekerjaan atau membersihkan pipa tiup, sisa kaca cair yang meleleh menetes ke bawah. Sesekali, tetesan panas ini jatuh langsung ke ember berisi air. Para pengrajin kaca memperhatikan bahwa 'kepala' yang membeku dalam air berperilaku aneh: mereka tidak pecah saat terbentur, tetapi langsung meledak jika ujungnya patah.

Di Eropa abad ke-17, mainan kaca ini sudah terkenal. Mereka dibuat oleh pengrajin kaca di Jerman Utara (sekitar tahun 1625) dan di Belanda, dijual sebagai suvenir lucu. Karena itu, pada masa itu mereka sering disebut 'air mata Batavia' (Batavia — nama sejarah untuk Belanda) atau 'air mata Prusia'.
Mengapa tepatnya Pangeran Rupert?
Nama Rupert Pfalzgraf (Pangeran Rupert dari Rhenus) melekat pada tetes setelah rangkaian peristiwa berikut:

Pada tahun 1660, Rupert membawa beberapa tetes kaca seperti itu dari Eropa Kontinental ke Inggris dan memberikannya sebagai hadiah asli kepada Raja Charles II.

Raja, yang tertarik dengan kekuatan tersembunyi dan kerapuhan suvenir, menyerahkan lima tetesan kepada Royal Society London yang baru dibentuk (organisasi ilmiah utama Inggris pada saat itu) dengan permintaan untuk menyelidiki bagaimana ini bekerja.
Di mana ini diterapkan hari ini?
Studi tentang tetes Rupert bukan hanya memuaskan rasa ingin tahu, tetapi juga bagian penting dari ilmu terapan:

Kaca tempered: Prinsip tetesan Rupert (pendinginan cepat dengan udara atau tempering kimia) menjadi dasar pembuatan kaca super kuat untuk layar smartphone modern (misalnya, Gorilla Glass) dan kaca depan mobil. Mereka juga tahan terhadap benturan dari arah datar, tetapi bisa hancur akibat kerusakan titik pada tepi.
Vulkanologi: Dalam penelitian terbaru, ilmuwan dari Universitas Bristol menggunakan fragmentation (pecahan meledak) tetes Rupert untuk memodelkan proses di mulut gunung berapi. Ini membantu memahami bagaimana tegangan geotermal membuat magma segera berubah menjadi abu vulkanik saat bersentuhan dengan air.
