#opg $OPG Saudara-saudara, pada pertemuan sebelumnya kita membongkar pemisahan verifikasi eksekusi HACA. Kali ini kita lihat dari sudut pandang lain: mari bahas bagaimana sebenarnya node verifikasi bekerja—ini adalah titik krusial agar OGP bisa benar-benar berjalan.
Logika konsensus pada rantai tradisional sangat sederhana: setiap node verifikasi menjalankan ulang perintah transaksi yang sama sampai menghasilkan output yang sama. Tapi penalaran AI tidak bisa seperti itu. Kalau 100 node masing-masing menjalankan model LLM 70B sekali, artinya biaya jadi 100 kali lipat untuk mendapatkan hasil yang sama—itu sama saja seperti membuang celana.
Opg ngapain? Node verifikasi sama sekali tidak menyentuh model
Seluruh node hanya melakukan tiga hal: registrasi node, pemrosesan pembayaran, dan penyelesaian bukti. Node penalaran menjalankan model, lalu menghasilkan bukti perangkat keras TEE atau bukti zero-knowledge ZKML, kemudian mengirimkannya ke seluruh node. Node verifikasi yang memeriksa keabsahan kriptografis—apakah tanda tangan benar, apakah nilai PCR masuk akal. Mereka tidak perlu tahu prompt apa, model apa yang dipakai, atau jawaban apa yang dikembalikan. Memverifikasi sebuah bukti itu urusan milidetik, benar-benar berbeda dengan penundaan beberapa detik jika harus menjalankan inferensi.
Yang paling seru adalah—penalaran dan verifikasi terjadi di dua timeline yang berbeda. Permintaan pengguna langsung diarahkan ke node inferensi, hasilnya cepat keluar, sepanjang proses tidak melewati blockchain. Verifikasi dilakukan secara asinkron: seluruh node mengecek pelan-pelan, lalu pelan-pelan menuliskannya ke blockchain. Dengan begitu, “cepat” dan “terpercaya” dipisahkan.
Lapisan konsensus memakai CometBFT, kompatibel dengan Cosmos SDK dan EVM. Pilihannya karena sudah matang—developer bisa langsung masuk dengan Hardhat, Foundry, dan MetaMask. Tapi catatan penting: whitepaper secara jelas menyebutkan, fitur pemanggilan inferensi AI secara native oleh smart contract saat ini belum tersedia. Fokusnya saat ini pada pemanggilan di level aplikasi, sedangkan pemanggilan di level kontrak perlu menunggu.
Sekilas soal token: total 1 miliar, sirkulasi aktual TGE hanya sekitar 10%. Alokasi: ekosistem 40%, yayasan 15%, kontributor 15%, investor 10%, reward staking 10%, likuiditas 6%, dan air drop 4%. Reward staking dikunci 96 bulan, inflasi ditekan cukup keras. Ukuran floating supply kecil, volatilitas besar—sudah ada gambaran. Jujur saja, desain layer verifikasi OGP ini jauh lebih jujur daripada kebanyakan proyek “blockchain + AI”. Ini membahas verifikasi hasil AI di rantai, bukan “menjalankan AI di rantai”—dua hal ini punya perbedaan mendasar. Tapi tantangannya juga ada: saat ini jumlah bukti verifikasi sudah 500 ribu+, sedangkan inferensi 2 juta+; masih jauh dari kesetaraan. Ke depan enam bulan, pantau data pemanggilan aktual di layer verifikasi—itu lebih nyata daripada sekadar lihat K-line.
Saudara-saudara, jalur menuju layer verifikasi AI yang terdesentralisasi ini bisa jalan tidak? Komentar di kolom ya: @OpenGradient
Logika konsensus pada rantai tradisional sangat sederhana: setiap node verifikasi menjalankan ulang perintah transaksi yang sama sampai menghasilkan output yang sama. Tapi penalaran AI tidak bisa seperti itu. Kalau 100 node masing-masing menjalankan model LLM 70B sekali, artinya biaya jadi 100 kali lipat untuk mendapatkan hasil yang sama—itu sama saja seperti membuang celana.
Opg ngapain? Node verifikasi sama sekali tidak menyentuh model
Seluruh node hanya melakukan tiga hal: registrasi node, pemrosesan pembayaran, dan penyelesaian bukti. Node penalaran menjalankan model, lalu menghasilkan bukti perangkat keras TEE atau bukti zero-knowledge ZKML, kemudian mengirimkannya ke seluruh node. Node verifikasi yang memeriksa keabsahan kriptografis—apakah tanda tangan benar, apakah nilai PCR masuk akal. Mereka tidak perlu tahu prompt apa, model apa yang dipakai, atau jawaban apa yang dikembalikan. Memverifikasi sebuah bukti itu urusan milidetik, benar-benar berbeda dengan penundaan beberapa detik jika harus menjalankan inferensi.
Yang paling seru adalah—penalaran dan verifikasi terjadi di dua timeline yang berbeda. Permintaan pengguna langsung diarahkan ke node inferensi, hasilnya cepat keluar, sepanjang proses tidak melewati blockchain. Verifikasi dilakukan secara asinkron: seluruh node mengecek pelan-pelan, lalu pelan-pelan menuliskannya ke blockchain. Dengan begitu, “cepat” dan “terpercaya” dipisahkan.
Lapisan konsensus memakai CometBFT, kompatibel dengan Cosmos SDK dan EVM. Pilihannya karena sudah matang—developer bisa langsung masuk dengan Hardhat, Foundry, dan MetaMask. Tapi catatan penting: whitepaper secara jelas menyebutkan, fitur pemanggilan inferensi AI secara native oleh smart contract saat ini belum tersedia. Fokusnya saat ini pada pemanggilan di level aplikasi, sedangkan pemanggilan di level kontrak perlu menunggu.
Sekilas soal token: total 1 miliar, sirkulasi aktual TGE hanya sekitar 10%. Alokasi: ekosistem 40%, yayasan 15%, kontributor 15%, investor 10%, reward staking 10%, likuiditas 6%, dan air drop 4%. Reward staking dikunci 96 bulan, inflasi ditekan cukup keras. Ukuran floating supply kecil, volatilitas besar—sudah ada gambaran. Jujur saja, desain layer verifikasi OGP ini jauh lebih jujur daripada kebanyakan proyek “blockchain + AI”. Ini membahas verifikasi hasil AI di rantai, bukan “menjalankan AI di rantai”—dua hal ini punya perbedaan mendasar. Tapi tantangannya juga ada: saat ini jumlah bukti verifikasi sudah 500 ribu+, sedangkan inferensi 2 juta+; masih jauh dari kesetaraan. Ke depan enam bulan, pantau data pemanggilan aktual di layer verifikasi—itu lebih nyata daripada sekadar lihat K-line.
Saudara-saudara, jalur menuju layer verifikasi AI yang terdesentralisasi ini bisa jalan tidak? Komentar di kolom ya: @OpenGradient