Pesta yang berlangsung sekali setiap empat tahun, kegilaan pamungkas dunia sepak bola

Piala Dunia datang, atau lebih tepatnya, ia tidak pernah benar-benar pergi dari hati kita.

Setiap empat tahun, ketika angin musim panas (atau angin musim dingin, seperti yang terjadi di Qatar) berhembus, seluruh dunia seperti ditekan tombol jeda. Di ruang kantor, perbincangan tak lagi soal KPI, melainkan apakah kaki kiri Messi bisa menciptakan keajaiban lagi; di warung bakar-bakar tengah malam, sekelompok orang yang biasanya tak saling kenal bisa saling berpelukan, melonjak, dan berteriak hanya karena satu gol.

Inilah daya magis Piala Dunia.

Ada yang menonton pertandingan, ada yang menonton orang, ada yang melihat kisah masa muda. Zinedine Zidane tahun 1998, Ronaldo “Fenômeno” tahun 2002, jiwa Gattuso/ Grosso yang seakan bersemayam tahun 2006, terobosan Manuel Neuer tahun 2014, kecepatan kilat Kylian Mbappé tahun 2018…… Setiap edisi Piala Dunia selalu meninggalkan beberapa gambar yang tertanam di timeline hidupmu. Bertahun-tahun kemudian, mungkin kamu lupa berapa bonus akhir tahun yang kamu terima saat itu, tapi pasti kamu ingat di mana kamu berada, dan menonton gol penentunya bersama siapa.

Sepak bola itu bulat—apa pun bisa terjadi. Tim lemah bisa membuat kejutan, tim kuat bisa tergelincir, adu penalti bisa membuat orang sesak sampai tak berani bernapas. Di sini ada kepahlawanan, juga ada penutup yang menyayat hati; ada serangan balik di saat genting, juga ada usaha yang kandas sedih. Setiap orang bisa menemukan, selama satu bulan ini, tim dan cerita yang menjadi milik mereka sendiri.

Dan mungkin, Piala Dunia adalah salah satu dari sedikit momen di dunia yang terpecah-pecah ini, ketika miliaran orang bisa menatap hal yang sama pada saat yang bersamaan. Tanpa pendirian, tanpa pertikaian—yang ada hanya satu identitas bersama: penggemar.

Jadi, urusan kickoff jam berapa pun, atur alarm, dinginkan bir, lalu ajak teman.

Sekali dalam empat tahun—pantang disia-siakan. #BianacePickAndWin