CPI AS bulan Mei naik 4.2% YoY, mencapai level tertinggi sejak April 2023. Namun, reaksi pasar justru bertentangan dengan logika umum. Para trader tidak hanya enggan untuk menaruh taruhan pada kenaikan suku bunga, tapi malah gila-gilaan menarik kembali taruhan tersebut, membuat probabilitas kenaikan suku bunga turun dari puluhan poin ke angka satu digit. Inti dari fenomena ini adalah bahwa fokus pasar telah beralih dari data YoY ke data MoM dan analisis struktural.

1. Perubahan struktural dalam data CPI

1. Pertumbuhan MoM melambat secara signifikan: CPI yang disesuaikan secara musiman untuk bulan Mei hanya tumbuh 0.1% MoM, jauh di bawah 0.4% bulan lalu dan ekspektasi pasar sebesar 0.3%. CPI inti juga menunjukkan pertumbuhan MoM sebesar 0.1%, jauh di bawah ekspektasi 0.2%. Ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi jangka pendek sedang mereda.

2. Pendinginan inflasi perumahan: sub-komponen perumahan (termasuk sewa dan sewa ekuivalen pemilik) menyumbang sekitar 35% bobot CPI, menjadi penyebab utama inflasi yang tetap tinggi selama dua tahun terakhir. Namun, pada bulan Mei, kenaikan sub-komponen perumahan adalah yang terkecil secara bulanan sejak 2022, menunjukkan bahwa “benteng yang bandel” inflasi perumahan mulai goyah.

II. Titik balik mendasar dalam logika pasar

1. Sinyal perlambatan ekonomi terlihat: memasuki 2026, tingkat pengangguran AS naik menjadi 4,4%, sementara pertumbuhan upah per jam melambat hingga 3,5%. Pendinginan inflasi inti semakin mengonfirmasi tren perlambatan ekonomi.

2. Dari melawan inflasi ke mencegah resesi: pasar menyadari bahwa risiko terbesar saat ini bukanlah harga yang lepas kendali, melainkan resesi ekonomi. Para trader mengurangi taruhan kenaikan suku bunga; pada dasarnya ini adalah perdagangan terhadap ekspektasi resesi—bertaruh bahwa The Fed tidak berani menaikkan suku bunga lagi, bahkan mungkin beralih ke penurunan suku bunga.

Peringatan risiko

CPI hanya indikator pendahulu, sementara indeks harga inti PCE yang lebih diperhatikan The Fed bisa tertinggal akibat perbedaan cakupan. Tidak menutup kemungkinan data ke depan menunjukkan fluktuasi (rebound), yang menyebabkan volatilitas sentimen pasar. Namun secara keseluruhan, logika makro telah beralih dari upaya melawan inflasi menuju pencegahan resesi; jalur kebijakan The Fed mungkin akan mengalami perubahan tajam pada paruh kedua tahun ini.