Jaringan lapisan dua RARI Chain yang dirancang untuk kreator secara tiba-tiba mengumumkan akan menghentikan operasi secara bertahap, meminta pengguna untuk menarik aset ke Ethereum sebelum 15 Juni, jika tidak, risiko ditanggung sendiri.
Dulu raja CryptoPunks, yang dijuluki 'emas digital', kini harganya jatuh di bawah 5.3 ribu dolar, turun lebih dari 80% dari puncaknya.
Bored Ape (BAYC) bahkan lebih parah, harga lantainya berjuang di bawah 15 ribu dolar.
Blue chip baru, Pudgy Penguins, juga tidak luput dari nasib buruk, berkisar di sekitar 7300 dolar, hampir terjatuh.
Total kapitalisasi pasar NFT sudah mendekati titik terendah dalam sejarah.
Penghentian layanan RARI Chain—hanya permulaan?
Penghentian layanan RARI Chain adalah peristiwa yang sangat sarat makna simbolis. Ia menyatakan bahwa narasi “NFT khusus L2”, yang pernah ditaruh harapan besar pada era bull market, sedang menuju akhir.
Apa model bisnis dari chain khusus seperti RARI Chain? Mereka seperti jalan tol eksklusif yang dibangun khusus untuk sebuah kota pertambangan emas tertentu. Ketika kota itu ramai dan emas berlimpah (transaksi NFT aktif), biaya tol (fee transaksi) masuk seperti air, bahkan bisa mengeluarkan hadiah besar (subsidi untuk kreator, insentif transaksi) untuk menarik lebih banyak orang datang mengais emas.
Saat emas (uang panas pasar) sudah digali habis dan para pemburu emas (spekulan) pun bubar, ketika kota itu menjadi sepi dan tinggal nama, nasib jalan tol eksklusif itu sudah ditentukan.
Di balik itu terlihat realitas bisnis yang dingin: dalam kondisi ketika total volume transaksi pasar NFT secara keseluruhan menyusut hingga titik terendah, segala “fasilitas khusus” yang bergantung pada fee transaksi dan insentif ekosistem untuk tetap berjalan akan kehilangan nilai bisnisnya. Ia adalah produk dari bull market, tetapi tidak bisa bertahan saat bear market.
RARI Chain tidak akan menjadi yang terakhir. Kita bisa memprediksi bahwa mereka yang sama-sama mengusung slogan “untuk melayani NFT” atau “memberdayakan kreator”, namun sebenarnya tidak memiliki kemampuan menghasilkan “darah” (cashflow) sendiri—dan sepenuhnya bergantung pada suntikan dari pihak luar—akan menghadapi pertanyaan hidup-mati yang sama.
Saat punk tidak lagi diminati siapa pun
Kita harus memahami kedudukan berhala (totem) CryptoPunks di dunia NFT. Itu bukan sekadar JPG biasa; ia pernah menjadi simbol identitas bagi para OG kelas atas, konsensus di kalangan bahwa itu adalah “Holy Grail”, dan bagi banyak orang, itu adalah “penyimpan nilai” terakhir dalam dunia NFT. Saat pasar sedang buruk, orang akan menjual proyek-proyek tiruan (altcoin) dan proyek-proyek baru, tapi mereka memilih untuk tetap memegang “punk”, karena dianggap sebagai “mata uang keras”.
5,3 juta dolar AS, harga yang sudah turun menjadi dua kali lipat dibanding puncak—namun tetap tidak mampu membangkitkan minat beli pasar.
Dulu, sebuah avatar “punk” adalah identitas—adalah komunitas—adalah tiket menuju dunia baru. Sekarang, ia seperti tiket lotre yang tidak ada yang menebus, terdiam di dompet, mengingatkanmu pada musim panas yang gila itu, sekaligus kenyataan pahit tentang “kembalinya nilai” saat ini—setiap koleksi digital yang tidak membawa arus kas dan tidak menghasilkan manfaat nyata, ketika gelombang spekulasi surut, nilainya mungkin benar-benar hanyalah serangkaian kode.
