Karena sepotong roti, tragedi kita dimulai—sebuah tragedi yang tak ada akhirnya—dan karena itu, sesuatu di dalam diri kita patah yang tak pernah bisa diperbaiki. 💔
Kami tinggal di Gaza, di bawah langit yang tidak lagi menurunkan apa pun selain kematian. Rumah kami, yang dulunya menyatukan kami, telah berubah menjadi abu. Ayahku telah pergi, tersembunyi di balik jeruji penjara sejak awal perang, meninggalkan kami tanpa dukungan, tanpa dinding, dan tanpa keamanan. 🏚️🔥 Lima belas kali tentara Israel menggusur kami dari satu tempat ke tempat lain, hingga akhirnya kami menetap di sebuah tenda yang sudah usang. Itu tidak melindungi kami dari embun beku yang menggigit tulang kami di malam hari, dan juga tidak menghindarkan kami dari teriknya matahari yang membakar tubuh kami di siang hari.
Tapi "Kelaparan" adalah musuh yang paling kejam. Kelaparan yang brutal meninggalkan kami tanpa apa pun—tidak ada uang, bahkan tidak ada sepotong roti kering pun. 🥀
Perjalanan Menuju Kematian untuk Sepotong Makanan
Pada hari yang malang itu, aku menatap wajah adikku, Musab; ia pucat seperti debu, matanya cekung karena kelaparan yang sangat. Aku berkata padanya: "Kita akan pergi, saudaraku. Kita akan mendapatkan roti yang dirampas tentara; kita tidak akan mati kelaparan."
Kami berlari, jantung berdegup kencang—bukan karena takut mati, melainkan karena rindu pada bau tepung. Tiba-tiba, keheningan berubah menjadi neraka tembakan. ☄️🔫 Mereka menembaki kami dengan intens, seolah-olah jiwa kami hanyalah sasaran untuk hiburan.
Aku: Aku merasakan panas yang menyayat menembus dadaku. Itu seperti peluru yang menggesek—luka fisik yang ringan, tetapi meninggalkan bekas di jiwaku yang tak akan pernah sembuh. 🩹
Musab: Ia jatuh di depanku seperti burung yang disembelih. Ia tidak berteriak; ia begitu saja kehilangan kesadaran. Peluru itu bersarang di punggungnya, tepat di kolom tulang belakangnya.
Bencana Ganda 😭
Aku kembali membawa Musab di atas bahuku; kami tidak kembali dengan roti. Dokter memberitahuku kata-kata yang menghantam seperti petir: "Saudaramu lumpuh... dia tak akan bisa berjalan lagi." ♿️
Kini, rasa sakit di tenda dingin kami berlipat ganda. Tidak ada makanan untuk mengenyangkan kelaparan kami, dan tidak ada uang untuk mengobati saudaraku yang kehilangan kemampuan untuk bergerak. Aku menatapnya terbaring di tanah, berusaha menggerakkan kakinya tapi tak bisa, dan ia bertanya padaku dengan mata penuh air mata: "Apakah aku akan bisa berlari lagi mengejar sepotong roti, saudaraku?"
Aku tersedak oleh air mataku dan berlindung dalam keheningan... sebab kita telah kehilangan segalanya, bahkan kemampuan untuk bermimpi sepotong roti dengan bermartabat. 💔🇵🇸


