Iya, sayangnya benar: **Italia sudah keluar dari Piala Dunia 2026**.
Bagi generasi muda Italia yang baru (katakanlah yang lahir dari 2005-2010 dan seterusnya) ini adalah kenyataan yang pahit: banyak dari mereka **belum pernah melihat Italia bermain di Piala Dunia** secara langsung, dengan emosi yang unik itu. Yang terakhir kali kita ikuti adalah Brasil 2014, ketika banyak anak muda sekarang berusia 4-9 tahun: kenangan yang samar, jika ada. Tidak ada malam-malam ajaib, tidak ada lagu-lagu yang dinyanyikan dengan keras, tidak ada pertandingan mendebarkan hingga pagi.
### Tahun '80 dan '90: emosi kuat yang kini terasa jauh
Siapa yang mengalami tahun-tahun itu ingat betul apa artinya:
- **1982** (Spanyol): Piala Dunia "para tua" Bearzot, dengan Paolo Rossi yang bangkit dari abu, semifinal melawan Polandia, final melawan Jerman Barat dan 3-1 yang epik itu. Italia juara dunia di negara yang baru keluar dari terorisme dan kegelapan.
- **1990** (Italia): Piala Dunia di rumah, dengan Totò Schillaci yang menjadi pahlawan nasional, malam Italia-Jerman di semifinal (kekalahan di adu penalti yang masih menyakitkan), tempat ketiga melawan Inggris. Stadion penuh, negara bersatu melalui sepak bola seperti tidak pernah sebelumnya.
- **1994** (AS): final yang hilang di adu penalti melawan Brasil setelah perjalanan yang luar biasa, dengan Baggio yang gagal penalti menentukan tetapi tetap menjadi legenda.
Itu adalah **emosi kolektif** yang nyata: keluarga di depan TV, bendera di jendela, radio menyala di mana-mana, diskusi tak berujung di bar. Sepak bola menyatukan generasi, menciptakan kenangan yang tak terlupakan. Kini, bagi banyak yang berusia di bawah 20-25, Piala Dunia hanya sesuatu yang dilihat di media sosial atau dalam cuplikan di YouTube: Italia tidak ada, dan kekosongan itu terasa.
### Masalah yang lebih dalam
Ini bukan hanya sial atau pelatih yang berganti-ganti (kali ini Gattuso, sebelumnya Ventura, Mancini/Spalletti, dll.).
Bagi generasi muda Italia yang baru (katakanlah yang lahir dari 2005-2010 dan seterusnya) ini adalah kenyataan yang pahit: banyak dari mereka **belum pernah melihat Italia bermain di Piala Dunia** secara langsung, dengan emosi yang unik itu. Yang terakhir kali kita ikuti adalah Brasil 2014, ketika banyak anak muda sekarang berusia 4-9 tahun: kenangan yang samar, jika ada. Tidak ada malam-malam ajaib, tidak ada lagu-lagu yang dinyanyikan dengan keras, tidak ada pertandingan mendebarkan hingga pagi.
### Tahun '80 dan '90: emosi kuat yang kini terasa jauh
Siapa yang mengalami tahun-tahun itu ingat betul apa artinya:
- **1982** (Spanyol): Piala Dunia "para tua" Bearzot, dengan Paolo Rossi yang bangkit dari abu, semifinal melawan Polandia, final melawan Jerman Barat dan 3-1 yang epik itu. Italia juara dunia di negara yang baru keluar dari terorisme dan kegelapan.
- **1990** (Italia): Piala Dunia di rumah, dengan Totò Schillaci yang menjadi pahlawan nasional, malam Italia-Jerman di semifinal (kekalahan di adu penalti yang masih menyakitkan), tempat ketiga melawan Inggris. Stadion penuh, negara bersatu melalui sepak bola seperti tidak pernah sebelumnya.
- **1994** (AS): final yang hilang di adu penalti melawan Brasil setelah perjalanan yang luar biasa, dengan Baggio yang gagal penalti menentukan tetapi tetap menjadi legenda.
Itu adalah **emosi kolektif** yang nyata: keluarga di depan TV, bendera di jendela, radio menyala di mana-mana, diskusi tak berujung di bar. Sepak bola menyatukan generasi, menciptakan kenangan yang tak terlupakan. Kini, bagi banyak yang berusia di bawah 20-25, Piala Dunia hanya sesuatu yang dilihat di media sosial atau dalam cuplikan di YouTube: Italia tidak ada, dan kekosongan itu terasa.
### Masalah yang lebih dalam
Ini bukan hanya sial atau pelatih yang berganti-ganti (kali ini Gattuso, sebelumnya Ventura, Mancini/Spalletti, dll.).