Ribuan tahun yang lalu, Nabi Ibrahim (AS), juga dikenal sebagai Abraham dan sebagai Khalilullah (Sahabat Allah), tinggal di tempat yang sekarang kita kenal sebagai Irak. Ia dan istrinya pada saat itu (Sarah) tidak memiliki anak selama beberapa tahun, namun kemudian, atas kehendak Allah (SWT), ia dianugerahi seorang putra (Ismail), setelah pernikahannya yang kedua dengan Hajar (Hagar).

Allah (SWT) telah menguji keyakinannya melalui sebuah mimpi yang ia alami pada suatu malam. Mimpi itu memerintahkan Ibrahim (AS) untuk mengorbankan putra tercintanya, Ismail (AS), sebagai bukti cinta dan pengabdiannya kepada Allah. Ibrahim (AS) bermimpi hal itu selama tiga malam berturut-turut, itulah sebabnya ia tahu bahwa itu adalah perintah dari Allah (SWT).

Allah (SWT) menyebutkan hal ini dalam Al-Quran yang mulia dengan firman, "Kemudian ketika (anak) telah sampai pada umur (yang memungkinkan) untuk bekerja bersamanya, ia berkata, 'Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku (harus) menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu.' Ia menjawab, 'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang engkau diperintahkan. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang tabah.'" [Quran 37:102]

Seseorang hanya bisa membayangkan betapa agungnya ujian ini bagi ayah dan anak. Nabi Ibrahim (AS) diperintahkan untuk mengorbankan anak yang sangat ia rindukan, dan Ismail (AS), karena masih sangat muda, menerima perintah itu, menunjukkan iman yang luar biasa dengan tetap teguh. Dengan pengetahuan itu, keduanya berangkat ke tempat yang diyakini oleh umat Islam berada dekat Mina, sebuah gunung yang terletak di Arab Saudi. Ibrahim (AS) mengikat putranya dan membaringkannya. Ketika ia bersiap untuk melaksanakan pengorbanan, ia memegang sebuah pisau di tangannya dan hati yang dipenuhi kesedihan, namun begitu besar kepercayaan kepada Tuhannya. Pada saat itu, sesuatu berubah.

Allah memanggilnya dengan ayat-ayat berikut yang disebutkan dalam Al-Quran, "Kami memanggilnya, 'Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah memenuhi mimpi.' Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. Ini benar-benar ujian yang sangat menyingkapkan. Dan Kami menebusnya dengan sembelihan yang besar." [Quran 37:104-107]

Sebagai pengganti putranya Ismail, Nabi Ibrahim (AS) mendapati seekor domba jantan di tempatnya. Ini merupakan tanda penerimaan, dan fokusnya bukan pada pengorbanan itu sendiri, melainkan pada penyerahan diri kepada kehendak Allah.

Hingga hari ini, umat Islam merayakan peristiwa ini dan ikut serta dalam penyembelihan hewan atas nama Allah. Tindakan suci berupa pengorbanan ini yang menjadi inti perayaan Idul Adha di seluruh dunia.