Pasar pertanian pada minggu 18–23 Mei beralih dari optimisme perdagangan AS–Tiongkok ke fase yang lebih selektif yang dipengaruhi oleh pasokan, cuaca, dan biaya input.

📌 Pemicu utama adalah komitmen Tiongkok untuk membeli setidaknya $17 miliar produk pertanian AS per tahun dari 2026 hingga 2028, bersama dengan pembukaan kembali impor daging sapi AS dan penghapusan pembatasan unggas. Ini mendukung kedelai, jagung, gandum, dan ternak AS di awal minggu.

💡 Kedelai, jagung, dan gandum Chicago melonjak tajam pada 18 Mei saat trader memperhitungkan permintaan ekspor yang lebih kuat. Rally tersebut kemudian mereda saat berita sebagian sudah diserap, sementara pengambilan keuntungan teknis dan volatilitas minyak mentah menambah tekanan.

🔎 Gandum masih memiliki dukungan yang paling jelas setelah laporan WASDE Mei menunjukkan penurunan tajam dalam produksi gandum AS untuk 2026/27. Kekeringan di Great Plains juga menjaga tekanan pada gandum musim dingin, memberikan dasar yang lebih kuat dibandingkan beberapa biji-bijian lainnya.

⚠️ Kedelai terlihat lebih seimbang karena Brasil sedang melalui panen rekor sekitar 179–180 juta ton. Ini mengurangi risiko kekurangan jangka pendek dan membuat rally berkelanjutan lebih sulit kecuali pembelian nyata Tiongkok muncul dalam data impor.

⏱️ Minyak sawit adalah pasar lain yang perlu diperhatikan saat Indonesia bersiap untuk memusatkan ekspor mulai awal Juni. Ini bisa menciptakan volatilitas CPO jangka pendek, sementara minyak nabati tetap terikat pada harga energi, permintaan biofuel, dan persaingan minyak kedelai.

✅ Secara keseluruhan, ini sudah bukan lagi rally pertanian yang luas, tetapi pasar yang lebih terpecah. Komoditas yang terkait dengan perdagangan dan pasokan yang ketat masih memiliki dukungan, sementara kakao, gula, dan bagian dari kompleks kedelai tetap lebih rentan terhadap koreksi.

📌 Selanjutnya, faktor kunci adalah pembelian aktual Tiongkok, data ekspor USDA, cuaca AS, dan risiko El Niño di Asia dari H2 2026. Jika El Niño menguat, minyak sawit, kopi robusta, kakao, beras, dan beberapa tanaman Asia bisa menjadi fokus volatilitas berikutnya.

#AgricultureMarkets