Pasar minyak global sedang tegang karena Selat Hormuz sebagian besar tertutup, memperdalam krisis pasokan dan mempersulit upaya AS untuk meredakan konflik. Tanpa resolusi segera, harga energi melambung, diplomasi terhambat, dan risiko permusuhan yang diperbarui mengintai.
Poin Kunci:
Deadlock di Hormuz: Iran bilang pengiriman bakal dilanjutkan cuma setelah konflik dengan AS dan Israel selesai, tanpa ada tanda-tanda kemajuan.
Krisis pasokan minyak: Ekspor dari Teluk Persia tetap hampir terhenti, mendorong harga energi global naik 50% sejak perang dimulai.
Ketegangan diplomatik: KTT Trump dengan pemimpin China menekankan pentingnya menjaga selat tetap terbuka, namun tidak ada kemajuan konkret yang dicapai.
Kontrol Iran: Teheran bersikeras mempertahankan otoritas atas jalur air dan telah mengancam kapal-kapal di wilayah tersebut, memanfaatkan ekspor minyak dalam negosiasi.
Dinamik China-AS: China mendesak untuk membuka kembali, sementara AS memberlakukan sanksi ekspor minyak terhadap Iran; Trump menyiratkan kemungkinan untuk melonggarkan sanksi kepada pembeli minyak mentah Iran dari China.
Negosiasi terhenti: Pembicaraan ditunda mengenai isu-isu sensitif seperti stok uranium Iran; risiko konflik yang diperbarui tetap tinggi.
Diplomasi regional: Pakistan menjadi mediator antara AS dan Iran, sementara Israel-Lebanon memperpanjang gencatan senjata di tengah ketidakstabilan yang terus berlangsung.


