Bitcoin tetap terjebak di bawah rata-rata pergerakan 200 harinya, dan lonjakan imbal hasil Treasury AS tampaknya menjadi penyebabnya. Saat imbal hasil naik, aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti Bitcoin dan emas menghadapi hambatan yang semakin meningkat—sementara Treasury yang ter-tokenisasi melihat lonjakan permintaan.
Hasil imbal hasil mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan: Imbal hasil Treasury 2-tahun naik menjadi 4,05% (tertinggi sejak Juni 2025), dan imbal hasil 10-tahun melonjak menjadi 4,5% (tertinggi sejak Mei 2025), mengikuti data inflasi April yang lebih panas dari yang diperkirakan (CPI & PPI).
Taruhan kenaikan suku bunga kembali: Pasar futures kini memperkirakan lebih dari 44% kemungkinan kenaikan suku bunga Fed pada bulan Desember—sebuah pembalikan tajam dari harapan sebelumnya akan beberapa pemotongan pada tahun 2026.
Ketegangan politik dengan Trump: Presiden Trump mendorong suku bunga serendah 1%, tetapi Fed—dipimpin oleh Jerome Powell—telah menolak, menjaga suku bunga di 3,50%–3,75%.
Bitcoin di bawah tekanan: BTC diperdagangkan dekat 81.000, masih di bawah SMA 200 harinya (81.000, masih di bawah SMA 200 harinya (82.000). Kenaikan imbal hasil meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti Bitcoin dan emas (emas turun 0,7% di $4.614).
Boom Treasuries yang ter-tokenisasi: Kenaikan imbal hasil memicu permintaan untuk utang pemerintah yang memberikan imbal hasil di on-chain, mendorong pasar Treasury yang ter-tokenisasi ke rekor lebih dari $15 miliar dalam aset terkunci.
Apa yang perlu diperhatikan: Penembusan yang tegas di atas SMA 200 hari Bitcoin bisa menandakan kembalinya tren bullish, tetapi untuk saat ini, pasar obligasi menunjukkan kebijakan yang lebih ketat di depan.
Beri tahu saya jika Anda ingin versi yang lebih pendek untuk media sosial atau analisis yang lebih teknis untuk trader.


