Baru-baru ini likuiditas blockchain terus tersedot habis, terutama karena lingkungan makroekonomi global yang semakin ketat. Pada November 2025, penutupan pemerintah AS menyebabkan saldo Rekening Umum Departemen Keuangan (TGA) mendekati 1 triliun dolar AS; dana tersebut terkunci sehingga tidak dapat mengalir ke pasar, menimbulkan tekanan likuiditas. Pengetatan kuantitatif (QT) yang diterapkan oleh The Fed sejak 2022 telah menghapus puluhan triliun dolar dari sistem, sehingga masalah ini makin parah. Suku bunga yang tinggi dan menguatnya dolar mendorong investor beralih ke pola “risk-off”, menjauh dari aset kripto yang volatil. Hal ini membuat kenaikan pada koin-koin utama seperti Bitcoin dan Ethereum terkikis, volume perdagangan anjlok, dan protokol DeFi menghadapi arus keluar dana.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik seperti ketegangan perdagangan AS-Tiongkok memperbesar kepanikan pasar, sehingga aliran modal global terhambat. Pasar kripto sebagai aset ber-beta tinggi sangat sensitif terhadap likuiditas makro; ketika kebijakan bank sentral berubah menjadi lebih ketat, ekosistem blockchain menjadi yang paling terdampak. Para analis memperkirakan, setelah penutupan berakhir, likuiditas bisa memantul, tetapi dalam jangka pendek dana masih lebih memilih aset aman seperti obligasi pemerintah, bukan kripto. Ini menegaskan kerapuhan ekosistem blockchain yang bergantung pada kondisi keuangan global; investor perlu waspada terhadap sinyal makro dan menghindari mengejar harga secara membabi buta. Secara keseluruhan, pengurasan ini bukan masalah inheren di dalam kripto, melainkan cerminan dari siklus ekonomi eksternal.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik seperti ketegangan perdagangan AS-Tiongkok memperbesar kepanikan pasar, sehingga aliran modal global terhambat. Pasar kripto sebagai aset ber-beta tinggi sangat sensitif terhadap likuiditas makro; ketika kebijakan bank sentral berubah menjadi lebih ketat, ekosistem blockchain menjadi yang paling terdampak. Para analis memperkirakan, setelah penutupan berakhir, likuiditas bisa memantul, tetapi dalam jangka pendek dana masih lebih memilih aset aman seperti obligasi pemerintah, bukan kripto. Ini menegaskan kerapuhan ekosistem blockchain yang bergantung pada kondisi keuangan global; investor perlu waspada terhadap sinyal makro dan menghindari mengejar harga secara membabi buta. Secara keseluruhan, pengurasan ini bukan masalah inheren di dalam kripto, melainkan cerminan dari siklus ekonomi eksternal.