Bab 1: GUA TANPA SUARA

Langit belum sepenuhnya terang, tambang masih diselimuti debu abu-abu dingin, seolah malam sebelumnya belum pernah pergi. Dari jauh, suara mesin meraung dalam-dalam, merobek keheningan yang masih tersisa dari malam yang telah berlalu. Debu batu terangkat dengan deras seperti kabut kelabu, menempel pada setiap batu, setiap kayu lapuk, menutupi pemandangan dengan warna dingin yang menyedihkan. Di tepi terjauh dari lokasi tambang, tempat tanah digali dalam-dalam membentuk tangga-tangga berantakan bekas ledakan dan waktu, ada sebuah jalur sempit yang mengarah langsung ke tepi jurang, batas tipis antara daratan dan kekosongan yang dalam yang jarang ada yang berani menginjaknya.

Kecuali Cao Phong.

Dia duduk diam di dalam kabin ekskavator, jari-jarinya yang keras diletakkan dengan santai di atas pengendali seolah-olah mereka milik tubuh lain, tidak terburu-buru untuk menyalakannya. Pandangannya menyapu area batu dengan kebiasaan seorang yang telah berhubungan dengan tempat ini hingga setiap kerikil pun menjadi akrab. Namun kemudian matanya terhenti. Menggantung di kejauhan, di tepi jurang samar dalam kabut pagi, ada sesuatu yang mencolok, sebuah bercak warna yang tidak termasuk dalam palet monoton tanah dan batu di sini.

Bukan coklat kusam. Bukan abu-abu dingin.

Phong sedikit menyipitkan mata. Sebuah aliran dingin menyusup tiba-tiba di sepanjang tulang punggungnya, samar dan sulit ditangkap seperti bayangan awan yang melintas di permukaan danau yang tenang.

Dia mematikan mesin.

Suara bising mesin berhenti, suasana langsung jatuh dalam keheningan berat yang tak terkatakan. Hanya ada suara angin yang melintasi celah-celah batu sempit, menciptakan suara nyaring seperti seseorang yang mendesah dari kedalaman jurang.

Phong keluar dari kabin, sepatu pelindungnya terbenam dalam debu batu halus seperti tepung. Setiap langkahnya maju seolah ditarik oleh kekuatan tak terlihat yang menariknya kembali. Dia tidak bisa menjelaskan mengapa dia bersikeras harus pergi ke tempat itu, hanya tahu bahwa jika hari ini dia berpaling dan meninggalkan, firasat samar ini akan menggerogoti dirinya sepanjang hari yang panjang di depan.

Semakin mendekat, sosok itu semakin jelas.

Sebuah manusia.

Terletak telungkup.

Sepenuhnya tak bergerak.

Phong berhenti beberapa meter dari situ. Detak jantung di dadanya mulai berdetak cepat, tetapi wajahnya tetap mempertahankan ketenangan yang sudah mendarah daging, ketenangan yang ditempa dari tahun-tahun panjang menghadapi benda-benda yang dingin dan tak bernyawa serta sudut gelap dalam jiwa manusia.

Dia melangkah satu langkah lagi.

Lalu satu langkah lagi.

Ketika matanya menangkap gambar tangan korban, jari-jarinya yang menggenggam erat penuh dengan tanah, posisinya seolah-olah telah berusaha mencengkeram ke dalam ketiadaan pada detik-detik terakhir.

Phong perlahan membungkuk, napasnya tertekan dalam dada.

Dia membalikkan orang itu.

Sebuah wajah pucat.

Mata terbuka lebar.

Pupilnya telah berhenti selamanya, tidak lagi memantulkan cahaya apapun.

Memar ungu membentang di sisi pelipis, bukan jenis cedera akibat jatuh secara tidak sengaja, tetapi mencerminkan kekuatan yang sengaja diarahkan.

Phong berdiri diam seperti patung.

Angin semakin kencang, membawa butiran debu kecil yang menyengat wajahnya.

Di kejauhan, suara mesin ekskavator dari pekerja lain mulai menggelegar, kehidupan sehari-hari terus berlanjut seperti tidak ada yang terjadi. Tetapi di tempat ini, pada saat ini, sepertinya ruang telah terputus dari aliran dunia luar.

Dia melirik sekeliling.

Tidak ada seorang pun.

Tidak ada tanda-tanda jelas dari perlawanan.

Hanya ada satu… benda.

Korek api Zippo.

Tergeletak tidak jauh dari mayat, tidak lebih dari satu lengan.

Tatapan Phong tertuju padanya.

Itu adalah korek apinya.

Dia tahu. Dia langsung mengenalinya seperti mengenali tangan sendiri.

Cacat kecil di sisi badan korek api—kenangan dari saat terjatuh dari kabin ke tanah batu beberapa minggu lalu, masih utuh di sana.

Phong tidak membungkuk untuk mengambilnya.

Dia hanya berdiri di situ. Melihat. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian tahun menjalani hidup sepi seperti batu besar di tepi jalan, dia memahami perasaan seseorang yang terjepit di tepi jurang nasibnya sendiri, terjatuh ke dalam sebuah jebakan tak terlihat, di mana dasar yang dalam masih menjadi misteri hitam yang belum pernah disentuh siapa pun.

Suara sirene mobil polisi menggema dari kejauhan, semakin dekat, merobek kabut pagi yang masih melayang di atas puncak batu tajam.