Dalam sekejap, suasana menjadi hening, dan banyak pasang mata tertuju padanya.
"Sungguh semakin menarik," pikir Fang Yuan sambil tersenyum dalam hati. Di tengah perhatian banyak orang, dia melintasi aliran sungai dan menginjakkan kaki di tepi lainnya.
Seketika, dia merasakan satu lapisan tekanan.
Tekanan ini datang dari dalam lautan bunga, sumber spiritual yang memproduksi energi vital. Karena energi vital ini terlalu pekat dan melimpah, maka terjadilah tekanan.
Namun dengan cepat, dari semak-semak di kaki Fang Yuan, muncul sekelompok titik cahaya.
Titik-titik cahaya bergetar, menyelimuti seluruh tubuh Fang Yuan, dan akhirnya semuanya terjun ke dalam dirinya.
“Jadi, inilah Gu Harapan.” Fang Yuan bergumam dalam hati. Penanggung jawab itu memang tidak menjelaskannya, tetapi Fang Yuan tahu betul.
Setiap titik cahaya ini adalah seekor Gu.
Nama Gu itu adalah Harapan.
Ada sebuah legenda kuno yang menceritakan tentang Gu Harapan.
Konon, ketika dunia baru saja terbentuk, segalanya masih liar dan binatang buas berkeliaran. Saat itulah manusia pertama muncul, bernama Ren Zu. Ia hidup dengan memakan daging mentah dan meminum darah, dan kehidupannya sangat sulit.
Terlebih lagi, ada segerombolan binatang buas bernama Kesulitan yang sangat menyukai aroma Ren Zu dan ingin memakannya.
Ren Zu tidak memiliki tubuh sekuat batu gunung, juga tidak punya taring dan cakar binatang buas. Bagaimana mungkin ia bertarung dengan binatang-binatang buas bernama Kesulitan ini? Sumber makanannya sangat tidak menentu. Sepanjang hari ia bersembunyi ke sana kemari, berada di tingkat terbawah rantai makanan alam, dan hampir tak sanggup bertahan hidup.
Saat itu, tiga Gu datang sendiri kepadanya dan berkata kepada Ren Zu, “Asalkan kau menggunakan hidupmu untuk memelihara kami, kami akan membantumu melewati masa sulit.”
Karena tak punya pilihan lain, Ren Zu terpaksa menyetujui ketiga Gu itu.
Mula-mula, ia menggunakan masa mudanya untuk memelihara Gu terbesar di antara ketiganya. Gu itu memberinya kekuatan.
Berkat kekuatan, kehidupan Ren Zu mulai membaik. Ia mulai memiliki sumber makanan yang stabil dan kekuatan untuk melindungi diri. Ia gemar berkelahi dan mengalahkan banyak Kesulitan. Namun, tak lama kemudian ia pun merasakan akibatnya. Pada akhirnya, ia menyadari bahwa kekuatan bukanlah segalanya. Kekuatan juga perlu dipulihkan dan dirawat, tak bisa dihambur-hamburkan sesuka hati.
Selain itu, jika dibandingkan dengan seluruh kawanan binatang Kesulitan, kekuatan satu orang saja terlalu kecil.
Setelah merenungkan kesalahannya, Ren Zu memutuskan untuk menggunakan masa paruh baya, saat dirinya berada di puncak kekuatan, guna memelihara Gu tercantik di antara ketiganya.
Lalu, Gu kedua memberinya kebijaksanaan.
Ren Zu memperoleh kebijaksanaan, belajar berpikir dan merenung, serta mulai mengumpulkan pengalaman. Ia menyadari bahwa dalam banyak hal, menggunakan kebijaksanaan jauh lebih efektif daripada menggunakan kekuatan. Dengan kebijaksanaan dan kekuatan, ia sempat menaklukkan banyak sasaran yang sebelumnya tak mampu ditaklukkan dan membunuh lebih banyak Kesulitan. Ia memakan daging Kesulitan dan meminum darahnya, lalu terus bertahan hidup dengan gigih.
Namun, masa-masa indah itu tak berlangsung lama. Ren Zu menua, semakin lama semakin tua.
Itu karena ia telah mempersembahkan masa muda dan usia paruh baya kepada Gu Kekuatan dan Gu Kebijaksanaan.
Ketika manusia menua, otot-ototnya menyusut dan pikirannya pun melambat.
“Wahai manusia, apa lagi yang bisa kauberikan kepada kami? Kau sudah tak punya apa pun untuk dipersembahkan.” Setelah menyadari hal ini, Gu Kekuatan dan Gu Kebijaksanaan meninggalkannya tanpa belas kasihan.
Ren Zu kehilangan kekuatan dan kebijaksanaannya, lalu ditemukan oleh Kesulitan dan terkepung oleh kawanan binatang. Ia sudah tua dan tak sanggup berlari lagi. Giginya pun telah tanggal semua, bahkan buah liar dan sayuran liar pun tak mampu ia kunyah.
Ia ambruk tak berdaya di tanah. Di sekelilingnya, Kesulitan berkerumun padat, dan hatinya dipenuhi keputusasaan.
Tepat pada saat itu, Gu ketiga berkata kepadanya, “Wahai manusia, persembahkanlah dirimu kepadaku. Aku bisa membantumu keluar dari kesulitan.”
Sambil berlinang air mata, Ren Zu berkata, “Wahai Gu, apa lagi yang kupunya? Lihatlah, Gu Kekuatan dan Gu Kebijaksanaan telah meninggalkanku. Kini yang tersisa hanya masa tuaku. Dibandingkan masa muda dan usia paruh baya, masa tua memang tak ada artinya. Namun, jika kupersembahkan masa tuaku kepadamu, hidupku akan langsung berakhir. Sekarang aku memang dikepung Kesulitan, tetapi aku tak akan mati dalam waktu dekat. Aku masih ingin hidup sedikit lebih lama, meski hanya sedetik. Jadi, pergilah. Aku sudah tak mampu mempersembahkan apa pun kepadamu.”
Namun, Gu itu berkata, “Di antara ketiga Gu, permintaanku yang paling kecil. Wahai manusia, kau hanya perlu menyerahkan hatimu kepadaku.”
“Kalau begitu, akan kuserahkan hatiku kepadamu.” kata Ren Zu. “Tapi, wahai Gu, apa yang bisa kauberikan kepadaku? Dalam keadaan yang begitu putus asa ini, sekalipun Gu Kekuatan dan Gu Kebijaksanaan kembali ke sisiku, semuanya tetap tak akan berubah.”
Dibandingkan dengan Gu Kekuatan, tubuh Gu ini paling lemah, hanya berupa titik cahaya kecil. Dibandingkan dengan Gu Kebijaksanaan, Gu ini paling redup, hanya memancarkan cahaya putih yang samar dan sama sekali tidak tampak indah atau gemerlap.
Namun, ketika manusia menyerahkan hatinya kepada Gu ini, Gu itu tiba-tiba memancarkan cahaya tak terbatas. Dalam cahaya tersebut, para Kesulitan berteriak ketakutan, “Ini Gu Harapan! Cepat mundur! Kita, para Kesulitan, paling takut pada harapan.”
Kawanan binatang Kesulitan langsung mundur dengan panik.
Ren Zu terpana. Sejak saat itu, ia tahu—saat menghadapi kesulitan, serahkanlah hatimu kepada harapan.
Pada saat itu, Gu Harapan menyatu menjadi seberkas cahaya dan telah memasuki tubuh Fang Yuan.
Karena tekanan dari luar, mereka segera berkumpul di perut Fang Yuan, tiga cun di bawah pusar, dan dengan sendirinya menggumpal menjadi satu.
Fang Yuan langsung merasa tekanannya sedikit berkurang.
Ia melangkah maju dan terus berjalan.
Setiap kali ia melangkah, Gu Harapan terus-menerus terbang keluar dari lautan bunga dan masuk ke dalam tubuhnya, bergabung dengan gumpalan cahaya.
Gumpalan cahaya itu semakin besar dan semakin terang.
Namun, penanggung jawab di seberang sungai mengernyit.
“Jumlah Gu Harapan ini tampaknya agak sedikit.” Banyak tetua keluarga yang diam-diam mengamati Fang Yuan melihat pemandangan ini dan tak kuasa merasa cemas.
Kepala suku pun mengernyit. Ini sama sekali bukan tanda-tanda yang seharusnya dimiliki oleh bakat kelas Jia!
Fang Yuan menahan tekanan dan terus berjalan maju.
“Kurang dari sepuluh langkah berarti tidak memiliki bakat kultivasi. Sepuluh hingga dua puluh langkah adalah bakat kelas Ding. Dua puluh hingga tiga puluh langkah adalah bakat kelas Bing. Tiga puluh hingga empat puluh langkah adalah bakat kelas Yi. Empat puluh hingga lima puluh langkah adalah kelas Jia. Sejauh ini, aku sudah melangkah dua puluh tiga kali.”
“Dua puluh empat, dua puluh lima, dua puluh enam… dua puluh tujuh.” Fang Yuan menghitung dalam hati. Saat mencapai langkah kedua puluh tujuh, seolah terdengar suara ledakan. Gumpalan cahaya di antara kedua ginjalnya telah mengumpulkan energi hingga mencapai batas, lalu tiba-tiba meledak dengan keras.
Ledakan ini hanya terjadi di dalam tubuh Fang Yuan. Orang luar sama sekali tidak menyadarinya. Hanya Fang Yuan yang seketika merasakan sesuatu yang luar biasa dan mengguncang dunia.
Seketika itu juga, bulu kuduknya berdiri, pori-porinya mengatup rapat, dan pikirannya menegang tiba-tiba, seperti tali busur yang ditarik kuat-kuat.
Tak lama kemudian, pikirannya tiba-tiba kosong. Seluruh tubuhnya terasa lemas, seolah-olah jatuh ke puncak awan. Ketegangan di benaknya pun mengendur, bulu kuduknya kembali rata, dan semua pori-pori di tubuhnya terbuka.
Dalam sekejap, keringat tipis membasahi seluruh tubuhnya.
Proses ini, kalau diceritakan, memang agak panjang, tetapi sebenarnya berlangsung sangat singkat. Datangnya cepat, perginya pun sangat tiba-tiba.
Fang Yuan hanya kehilangan fokus sesaat, lalu segera tersadar kembali.
Diam-diam ia memusatkan pikiran dan memeriksa bagian dalam tubuhnya. Ia mendapati sebuah apertur muncul entah dari mana di bagian perut, tepat di tengah kedua ginjal dan di bawah pusar.
Pembukaan apertur berhasil!
Inilah harapan untuk hidup kekal!!