🚀🚀Sejarah Menunjukkan Betapa Cepatnya Pasar Dapat Berubah
Pada 6 Oktober 1973, Timur Tengah menyaksikan dimulainya Perang Yom Kippur.
Konflik itu sendiri hanya berlangsung sekitar tiga minggu, tetapi guncangan ekonomi yang ditimbulkannya membentuk kembali pasar global selama hampir satu dekade.
Ketika Amerika Serikat mendukung Israel selama perang, beberapa negara Arab merespons menggunakan alat ekonomi paling kuat mereka: minyak.
Dipimpin oleh anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak, mereka meluncurkan embargo minyak bersejarah 1973.
Dampaknya langsung terasa.
Harga minyak melonjak dari kurang dari $3 per barel menjadi hampir $12 dalam beberapa bulan — hampir peningkatan 4x. Pasar energi terjebak dalam kekacauan.
Efek riak di pasar keuangan sangat dramatis:
• Indeks Dolar AS melonjak.
• S&P 500 merosot dan akhirnya kehilangan sekitar 45% dari nilainya.
• Ekonomi global memasuki era sulit dengan inflasi tinggi dan pertumbuhan lambat, kemudian dikenal sebagai Stagflasi.
Tetapi satu detail penting sering dilupakan.
Inflasi tidak dimulai dengan embargo minyak.
Tekanan harga sudah mulai membangun di ekonomi global.
Guncangan minyak hanya mempercepat krisis yang sudah berlangsung.
Bisakah sesuatu yang serupa terjadi lagi?
Dunia hari ini berbeda.
Amerika Serikat kini menjadi salah satu produsen minyak terbesar di dunia, tidak seperti tahun 1970-an ketika sangat bergantung pada impor.
Embargo minyak terkoordinasi seperti 1973 kurang mungkin terjadi hari ini.
Namun, risiko besar masih ada: Selat Hormuz.
Hampir 20% pasokan minyak dunia melewati jalur air sempit ini.
Setiap gangguan pada lalu lintas tanker dapat dengan cepat mengirim harga energi lebih tinggi.
Apakah minyak akan melonjak 4x lagi?
Mungkin tidak.
Tetapi bisakah itu naik cukup untuk menghidupkan kembali inflasi dan mengguncang pasar global?
Kemungkinan itu sangat nyata.
Dalam keuangan, jenis skenario ini disebut Risiko Ekor — sebuah peristiwa dengan probabilitas rendah namun konsekuensi besar.
Banyak investor hari ini tidak diposisikan untuk guncangan seperti itu.
Dan sejarah mengajarkan pelajaran penting:
Perang 1973 berlangsung kurang dari sebulan,
but dampak ekonominya bertahan hampir sepuluh tahun.
Perang dapat berakhir dengan cepat.
Pada 6 Oktober 1973, Timur Tengah menyaksikan dimulainya Perang Yom Kippur.
Konflik itu sendiri hanya berlangsung sekitar tiga minggu, tetapi guncangan ekonomi yang ditimbulkannya membentuk kembali pasar global selama hampir satu dekade.
Ketika Amerika Serikat mendukung Israel selama perang, beberapa negara Arab merespons menggunakan alat ekonomi paling kuat mereka: minyak.
Dipimpin oleh anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak, mereka meluncurkan embargo minyak bersejarah 1973.
Dampaknya langsung terasa.
Harga minyak melonjak dari kurang dari $3 per barel menjadi hampir $12 dalam beberapa bulan — hampir peningkatan 4x. Pasar energi terjebak dalam kekacauan.
Efek riak di pasar keuangan sangat dramatis:
• Indeks Dolar AS melonjak.
• S&P 500 merosot dan akhirnya kehilangan sekitar 45% dari nilainya.
• Ekonomi global memasuki era sulit dengan inflasi tinggi dan pertumbuhan lambat, kemudian dikenal sebagai Stagflasi.
Tetapi satu detail penting sering dilupakan.
Inflasi tidak dimulai dengan embargo minyak.
Tekanan harga sudah mulai membangun di ekonomi global.
Guncangan minyak hanya mempercepat krisis yang sudah berlangsung.
Bisakah sesuatu yang serupa terjadi lagi?
Dunia hari ini berbeda.
Amerika Serikat kini menjadi salah satu produsen minyak terbesar di dunia, tidak seperti tahun 1970-an ketika sangat bergantung pada impor.
Embargo minyak terkoordinasi seperti 1973 kurang mungkin terjadi hari ini.
Namun, risiko besar masih ada: Selat Hormuz.
Hampir 20% pasokan minyak dunia melewati jalur air sempit ini.
Setiap gangguan pada lalu lintas tanker dapat dengan cepat mengirim harga energi lebih tinggi.
Apakah minyak akan melonjak 4x lagi?
Mungkin tidak.
Tetapi bisakah itu naik cukup untuk menghidupkan kembali inflasi dan mengguncang pasar global?
Kemungkinan itu sangat nyata.
Dalam keuangan, jenis skenario ini disebut Risiko Ekor — sebuah peristiwa dengan probabilitas rendah namun konsekuensi besar.
Banyak investor hari ini tidak diposisikan untuk guncangan seperti itu.
Dan sejarah mengajarkan pelajaran penting:
Perang 1973 berlangsung kurang dari sebulan,
but dampak ekonominya bertahan hampir sepuluh tahun.
Perang dapat berakhir dengan cepat.
