Serangan Amerika Serikat terhadap Iran dan cryptocurrency
Serangan terbaru oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran menyebabkan penurunan harga Bitcoin yang segera dan menghidupkan kembali diskusi tentang penggunaan cryptocurrency dalam skenario konflik dan sanksi, serta di pasar prediksi.
Dampak di Pasar Kripto
Penurunan Harga: Segera setelah berita serangan pada 28 Februari 2026, harga Bitcoin mengalami penurunan, bahkan jatuh di bawah US63 ribu di beberapa bursa. Aset digital lainnya juga mengalami pergerakan turun akibat ketidakpastian global yang lebih besar dan volatilitas pasar.
Volatilitas: Meningkatnya ketegangan geopolitik meningkatkan volatilitas di pasar keuangan, termasuk aset kripto, yang sudah menghadapi tekanan penjualan pada 2026.
Reaksi Pasar Tradisional: Konflik juga berdampak pada ekonomi global, dengan kemungkinan efek pada harga minyak dan kekuatan dolar, yang pada gilirannya menekan pasar aset kripto.
Cryptocurrency dan Iran
Penghindaran Sanksi: Iran telah menggunakan ekosistem cryptocurrency-nya untuk mengurangi dampak sanksi ekonomi AS. Volume transaksi kripto di negara ini mencapai US$ 7,78 miliar pada 2025, peningkatan di tengah gejolak dan devaluasi mata uang lokal, rial Iran.
Perlindungan terhadap Inflasi: Untuk populasi Iran, Bitcoin berfungsi sebagai bentuk perlindungan terhadap inflasi yang absurd dan devaluasi rial, memungkinkan beberapa otonomi finansial di tengah kekacauan ekonomi dan penindasan pemerintah.
Pasar Prediksi (Prediction Markets): Terdapat laporan tentang perdagangan yang mencurigakan dan keuntungan signifikan di platform pasar prediksi, seperti Polymarket, mengenai kemungkinan serangan AS terhadap Iran, memicu perdebatan tentang penggunaan informasi rahasia (insider trading) di pasar ini.
Singkatnya, konflik telah meningkatkan volatilitas dan menyebabkan penurunan jangka pendek untuk Bitcoin, sekaligus menyoroti relevansi cryptocurrency sebagai alat lindung nilai dan penghindaran sanksi di wilayah yang tidak stabil secara politik dan ekonomi.
