“Datang jika mau, pergi jika mau”, bukan karena secara sengaja mencari ‘kemampuan’, melainkan mengikuti ‘sifatnya’.
Kamu lihat antara langit dan bumi, matahari dan bulan terbit dan terbenam, tidak karena siapa yang menahan dan terlambat, tidak karena siapa yang mengharapkan dan lebih awal; sungai mengalir deras, berbelok jika menemui lembah, jatuh jika bertemu tebing, tanpa adanya obsesi ‘kemana aku harus pergi’, hanya mengikuti arus. ‘Datang dan pergi’ seperti ini, adalah satu dengan jalan, maka tenang dan tanpa hambatan.
Untuk mengasah keadaan ini, pertama-tama pergi dari ‘mengikat’. Alasan seseorang terjebak dalam ‘datang atau tidak datang’ dan ‘pergi atau tidak pergi’ adalah karena di dalam hati ada ‘ingin’ atau ‘takut ingin’. Misalnya, melihat barang bagus lalu muncul ketamakan, takut barang itu tidak datang; menghadapi masalah lalu muncul rasa benci, takut masalah itu tidak pergi. Ketamakan dan benci ini adalah tali yang mengikatmu.
Setiap hari, coba jadilah ‘pengamat’. Saat pagi, tidak mendesak ‘matahari bergerak lebih cepat’; saat senja, tidak mengeluh ‘waktu berlalu cepat’. Melihat orang datang, tahu itu adalah pertemuan, tidak perlu terlalu gembira; melihat orang pergi, tahu itu adalah perpisahan, tidak perlu bersedih. Makan saat makan, berjalan saat berjalan, jika pikiran muncul, biarkan ia muncul; jika pikiran padam, biarkan ia padam.
Lama kelamaan, hati akan seperti cermin yang jernih. Barang datang maka tercermin, barang pergi maka kosong, tidak meninggalkan sedikit pun jejak. Saat itu, yang datang akan datang dengan sendirinya, karena kamu tidak menolak; yang pergi akan pergi dengan sendirinya, karena kamu tidak menghalangi. Bukan kamu yang ‘mampu’ membuatnya datang dan pergi, tetapi kamu dan ‘datang dan pergi’ ini sudah satu—seperti angin lewat di atas pucuk pohon, daun bergerak sendiri, bukan daun yang ingin bergerak, juga bukan angin yang harus kuat, hanya jalan yang mengalir di dalamnya.
Ketika api ‘ingin mengontrol’ di hatimu padam, ‘datang dan pergi’ menjadi nafas alami, mengapa harus ‘berlatih’? Hanya kembali ke keadaan semula. $BTC
Kamu lihat antara langit dan bumi, matahari dan bulan terbit dan terbenam, tidak karena siapa yang menahan dan terlambat, tidak karena siapa yang mengharapkan dan lebih awal; sungai mengalir deras, berbelok jika menemui lembah, jatuh jika bertemu tebing, tanpa adanya obsesi ‘kemana aku harus pergi’, hanya mengikuti arus. ‘Datang dan pergi’ seperti ini, adalah satu dengan jalan, maka tenang dan tanpa hambatan.
Untuk mengasah keadaan ini, pertama-tama pergi dari ‘mengikat’. Alasan seseorang terjebak dalam ‘datang atau tidak datang’ dan ‘pergi atau tidak pergi’ adalah karena di dalam hati ada ‘ingin’ atau ‘takut ingin’. Misalnya, melihat barang bagus lalu muncul ketamakan, takut barang itu tidak datang; menghadapi masalah lalu muncul rasa benci, takut masalah itu tidak pergi. Ketamakan dan benci ini adalah tali yang mengikatmu.
Setiap hari, coba jadilah ‘pengamat’. Saat pagi, tidak mendesak ‘matahari bergerak lebih cepat’; saat senja, tidak mengeluh ‘waktu berlalu cepat’. Melihat orang datang, tahu itu adalah pertemuan, tidak perlu terlalu gembira; melihat orang pergi, tahu itu adalah perpisahan, tidak perlu bersedih. Makan saat makan, berjalan saat berjalan, jika pikiran muncul, biarkan ia muncul; jika pikiran padam, biarkan ia padam.
Lama kelamaan, hati akan seperti cermin yang jernih. Barang datang maka tercermin, barang pergi maka kosong, tidak meninggalkan sedikit pun jejak. Saat itu, yang datang akan datang dengan sendirinya, karena kamu tidak menolak; yang pergi akan pergi dengan sendirinya, karena kamu tidak menghalangi. Bukan kamu yang ‘mampu’ membuatnya datang dan pergi, tetapi kamu dan ‘datang dan pergi’ ini sudah satu—seperti angin lewat di atas pucuk pohon, daun bergerak sendiri, bukan daun yang ingin bergerak, juga bukan angin yang harus kuat, hanya jalan yang mengalir di dalamnya.
Ketika api ‘ingin mengontrol’ di hatimu padam, ‘datang dan pergi’ menjadi nafas alami, mengapa harus ‘berlatih’? Hanya kembali ke keadaan semula. $BTC