Boikot Global: Coca-Cola Menjadi Sasaran karena Hubungannya dengan Kebijakan Trump
Coca-Cola, simbol gaya hidup Amerika, menghadapi boikot di berbagai negara karena asosiasinya, meskipun tidak langsung, dengan kebijakan presiden Donald Trump. Di Denmark, konsumen bereaksi terhadap usulan aneksasi Greenland dengan memilih merek lokal seperti Jolly Cola, sementara di AS dan Meksiko, perusahaan ini menjadi target gerakan "Latino Freeze" setelah tuduhan praktik diskriminatif terhadap karyawan Latino — tuduhan yang dibantah oleh perusahaan. Menghadapi tekanan internasional dan penurunan penjualan, CEO James Quincey menyatakan bahwa Coca-Cola berkomitmen untuk memulihkan kepercayaan publik dan menjauhkan diri dari kontroversi politik, di tengah situasi ketegangan geopolitik yang mempertanyakan citra global merek tersebut.$BTC , $ETH , $XRP
#Trump100Days
Coca-Cola, simbol gaya hidup Amerika, menghadapi boikot di berbagai negara karena asosiasinya, meskipun tidak langsung, dengan kebijakan presiden Donald Trump. Di Denmark, konsumen bereaksi terhadap usulan aneksasi Greenland dengan memilih merek lokal seperti Jolly Cola, sementara di AS dan Meksiko, perusahaan ini menjadi target gerakan "Latino Freeze" setelah tuduhan praktik diskriminatif terhadap karyawan Latino — tuduhan yang dibantah oleh perusahaan. Menghadapi tekanan internasional dan penurunan penjualan, CEO James Quincey menyatakan bahwa Coca-Cola berkomitmen untuk memulihkan kepercayaan publik dan menjauhkan diri dari kontroversi politik, di tengah situasi ketegangan geopolitik yang mempertanyakan citra global merek tersebut.$BTC , $ETH , $XRP
#Trump100Days