#特朗普暂停新关税
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 9 April 2025 mengumumkan penundaan penerapan "tarif setara" selama 90 hari untuk sebagian besar negara, dengan mempertahankan tarif dasar sebesar 10% selama periode tersebut. Keputusan ini terutama dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:

1. Gejolak pasar obligasi: Obligasi pemerintah AS mengalami penjualan besar-besaran, dengan imbal hasil obligasi 30 tahun melonjak hampir 60 basis poin dalam tiga hari, dan sempat menembus angka 5%. Kekhawatiran di dalam Departemen Keuangan mengenai risiko pasar menjadi penyebab utama penundaan tarif.

2. Kekhawatiran akibat ekonomi: Jika penjualan obligasi berlanjut, ini bisa memicu krisis keuangan terparah sejak 1981. Wall Street umumnya berpendapat bahwa meskipun penundaan tarif dapat menstabilkan pasar dalam jangka pendek, ketidakpastian yang meningkat akibat kebijakan yang tidak konsisten menjadi masalah.

3. Tekanan dari berbagai pihak: Anggota Partai Republik, eksekutif bisnis, dan sekutu Wall Street memberikan tekanan melalui telepon dan pertemuan, meminta Trump untuk mempertimbangkan kembali kebijakan tarif. CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon memperingatkan bahwa resesi mungkin merupakan "hasil potensial" dari tarif baru tersebut.

Perlu dicatat bahwa Trump juga mengenakan tarif sebesar 125% terhadap China, langkah ini bertujuan untuk memaksa China mengalah dalam negosiasi melalui tekanan ekstrem. Reaksi pasar saat ini menunjukkan perbedaan: Tiga indeks utama saham AS mencetak kenaikan terbesar dalam sejarah dalam satu hari, namun institusi seperti Goldman Sachs masih memprediksi kemungkinan resesi mencapai 45% dalam 12 bulan ke depan.