Karya manga Jepang yang ditulis oleh Tatsuki Ryo terkenal karena mimpinya yang dapat meramalkan. Dia menerbitkan manga (Masa Depan yang Saya Lihat) pada tahun 1999, yang mencatat beberapa mimpi ramalan, termasuk prediksi akurat tentang gempa bumi besar “311” di Jepang pada tahun 2011. Dalam manga ini, ia juga menyebutkan bahwa pada tanggal 5 Juli 2025 pukul 5 pagi, akan terjadi bencana besar. Mimpinya menggambarkan fenomena gelembung yang terus muncul di lepas pantai Jepang, diikuti oleh gempa bumi yang hebat, yang memicu tsunami setinggi 40 meter, menyebabkan sepertiga wilayah Jepang tenggelam. Selain itu, ia juga bermimpi tentang tanah baru yang muncul dari dasar laut, menghubungkan Jepang, Taiwan, Hong Kong, dan Filipina.
Selain Tatsuki Ryo, peramal lainnya juga membuat prediksi serupa untuk tahun 2025:
• Baba Vanga: Peramal Bulgaria ini dikenal sebagai “Nenek Buta”, dan tingkat keberhasilan prediksinya dilaporkan mencapai 85%. Dia meramalkan bahwa pada tahun 2025, akan ada dua negara di Eropa yang terlibat konflik, yang mungkin memicu kiamat global.
• Nostradamus: Ahli astrologi Prancis dari abad ke-16 ini meramalkan dalam karya-karyanya (Les Prophéties) bahwa pada tahun 2025, Eropa mungkin akan terjerumus ke dalam keadaan anarki dan menjadi pusat perang baru, disertai dengan wabah penyakit kuno yang besar, yang mungkin menyebabkan kehancuran sebuah kekaisaran.
• Abhigya Anand: Dikenal sebagai “anak ajaib India”, Anand meramalkan bahwa pada paruh pertama tahun 2025, mungkin akan terjadi konflik regional, bencana alam, dan peristiwa serupa genosida di kawasan Laut Selatan. Dia menunjukkan bahwa dari akhir 2024 hingga paruh pertama 2025, karena pertemuan Saturnus dan titik potong utara Bulan, daerah yang berkaitan dengan air mungkin akan mengalami gempa bumi, tsunami, dan bencana alam lainnya.
Perlu dicatat bahwa ramalan tidak memiliki dasar ilmiah, dan prediksi ini mungkin tidak akan menjadi kenyataan. Namun, laporan terbaru dari pemerintah Jepang menunjukkan bahwa gempa bumi besar yang diperkirakan akan terjadi di palung Laut Selatan di masa depan dapat menyebabkan kerugian ekonomi sekitar 1,8 triliun dolar AS dan mengakibatkan sekitar 300.000 kematian. Ini mengingatkan kita bahwa risiko bencana alam seperti gempa bumi adalah nyata, dan mengambil langkah pencegahan sangat penting.