Kehidupan para penggemar koin penuh penghinaan hingga ke detail terkecil, seperti film komedi tragis tanpa akhir. Setiap hari, mereka menatap layar, keringat bercucuran saat harga koin jatuh, jantung berdebar setiap kali "naik puncak" lalu "jatuh ke dasar". Uang di dompet digital semakin menipis, ada hari kerugian besar hingga tidak berani melihat tagihan listrik dan air, harus makan mie instan untuk bertahan. Di jalan, kepala tertunduk karena malu, mendengar tetangga berbisik "orang itu menjual motor hanya untuk membeli koin, sekarang jalan kaki seperti layaknya". Sampai di rumah, istri wajahnya dingin seperti uang, melemparkan kata-kata pahit "pria apa yang hanya tahu bermimpi kosong, membuat ibu dan anakku kelaparan". Anak kecil yang polos bertanya "ayah, kenapa teman-temanku punya sepatu baru sementara aku tidak?", membuat penggemar koin hanya bisa menahan air mata. Malam tiba, terkurung di sofa – karena istri mengusir dari tempat tidur – mereka berbisik untuk menghibur diri: "Bertahanlah, hari bulan purnama dan mobil lambo akan tiba", meskipun dalam hati tidak tahu apakah hari "balas dendam" itu benar-benar ada atau hanya mimpi di tengah mimpi buruk yang panjang.
