Menteri Dalam Negeri Singapura, Sun Xueling, telah mendesak warga untuk menjauhi cryptocurrency, mengutip meningkatnya prevalensi penipuan yang canggih. Meskipun negara kota ini telah lama dikenal karena sikap ramah crypto-nya, peningkatan aktivitas penipuan telah membuat beberapa pembuat kebijakan menilai kembali pandangan mereka.

Dalam sidang anggaran baru-baru ini, Sun mengemukakan argumennya sebagai langkah perlindungan bagi publik. Namun, pejabat pemerintah lainnya mengambil pendekatan yang jauh lebih agresif. Dalam pidato pada hari Senin, MP Tan Wu Meng mengusulkan penggunaan hukuman cambuk bagi penipu crypto. Meskipun pernyataan ini, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa Singapura mengubah kebijakan crypto-nya secara keseluruhan.

Apakah Singapura Mengencangkan Sikapnya Terhadap Crypto?

Selama bertahun-tahun, Singapura telah membangun reputasi sebagai salah satu yurisdiksi yang paling ramah terhadap aset digital. Pada tahun 2023, negara ini memimpin Asia dalam lisensi bisnis crypto dan bahkan dinobatkan sebagai “negara paling ramah crypto di dunia” pada Januari 2024.

Namun, pernyataan terbaru dari Kementerian Dalam Negeri menunjukkan sikap yang semakin keras.

“Nasihat kami kepada publik adalah menjauh dari cryptocurrency. Risiko kerugian finansial sangat signifikan, dan jika Anda menjadi korban penipuan, memulihkan dana Anda sangat tidak mungkin,” kata Sun Xueling dalam sidang komite anggaran.

Menurutnya, penipuan terkait crypto menyumbang angka yang mencengangkan yaitu 25% dari total kerugian terkait penipuan di Singapura tahun lalu. Ia memperingatkan bahwa skema ini semakin canggih, menargetkan baik pendatang baru maupun investor berpengalaman.

Sementara Sun mengambil sikap hati-hati, pejabat lain mendorong langkah-langkah yang lebih keras. MP Tan Wu Meng berargumen bahwa Singapura terlalu lunak terhadap penjahat crypto dan mengusulkan hukuman fisik untuk pelanggaran berat.

Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan penting: Bagaimana sebuah negara yang berada di garis depan inovasi blockchain membenarkan sikap drastis seperti itu?

Lonjakan Penipuan Crypto Memicu Kekhawatiran

Meskipun kebijakan pro-crypto, Singapura telah mempertahankan perlindungan regulasi. Misalnya, sementara Worldcoin meluncurkan operasi di negara itu pada akhir 2023, pihak berwenang meluncurkan penyelidikan terhadap proyek tersebut kurang dari setahun kemudian karena potensi penyimpangan finansial.

Selain itu, sebelumnya pada tahun 2025, Singapura melarang Polymarket, mengklasifikasikannya sebagai platform perjudian ilegal.

Sun menekankan semakin canggihnya penipu, menegaskan bahwa tanda-tanda merah tradisional tidak lagi dapat diandalkan.

“Hari-hari ketika Anda bisa mengidentifikasi penipuan berdasarkan bahasa Inggris yang buruk atau aksen asing yang kuat sudah lama berlalu,” catatnya.

Statistik mencolok lebih lanjut menyoroti masalah ini—80% kerugian penipuan crypto di Singapura dihasilkan dari korban yang dengan sukarela mentransfer dana mereka kepada penipu. Ini menyoroti perlunya kesadaran publik yang lebih kuat dan langkah-langkah regulasi.

Meskipun belum ada perubahan kebijakan formal yang diterapkan, pernyataan ini memberikan wawasan tentang sikap pemerintah yang berkembang terhadap kejahatan terkait crypto. Laporan lokal menunjukkan bahwa langkah-langkah hukuman yang lebih ketat sedang dipertimbangkan, dan MP Tan Wu Meng tidak sendirian dalam mendukungnya.

Untuk saat ini, Sun telah mendesak warga untuk memanfaatkan sumber daya anti-penipuan yang didukung pemerintah untuk melindungi diri mereka sendiri. Namun, prospek regulasi yang lebih ketat tetap ada di cakrawala, menandakan potensi perubahan dalam pendekatan Singapura terhadap industri crypto.

💡 Ingin berdagang dengan aman di bursa crypto terbesar di dunia?

👉 Daftar di sini: https://accounts.binance.com/register?ref=36428306Referral

Kode: 36428306🎁 Dapatkan rebate komisi 10% dari biaya trading Anda!