Raksasa ponsel, Nokia menyebarkan tentakel bisnisnya ke metaverse. Pihak Finlandia menggunakannya untuk memberikan bantuan jarak jauh kepada pekerja di pabrik bir dan teknisi pesawat terbang.

Pada tahun 2020, perusahaan menguraikan rencana bertahap yang mewujudkan niatnya untuk memposisikan perusahaan dengan lebih baik dalam menghadapi perubahan pasar dan memenuhi kebutuhan pelanggan.

Robert Joyce, CTO Nokia Oceania, mengatakan bagian dari strategi ini juga termasuk menghadirkan Metaverse. Menurutnya, Nokia akan menggunakan metaverse untuk mengeksplorasi operasi manajemen rantai nilai di pabrik bir, bengkel teknisi pesawat, dan penawaran Microsoft HoloLens Augmented reality.

Pada tahun 2021, Nokia mengumumkan rencananya untuk meluncurkan pasar data berbasis teknologi buku besar terdistribusi (DLT). Platform baru ini bertujuan untuk mempromosikan perdagangan data yang aman sekaligus mempermudah kehidupan para pelaku bisnis dan penyedia layanan komunikasi (CSP).

Rencana Nokia untuk metaverse menjadi kenyataan pada tahun 2022 ketika meluncurkan dua laboratorium untuk meneliti dan menawarkan kemungkinan.

Pada tahun 2022, Nokia mulai bekerja sama dengan sebuah universitas Australia untuk menghadirkan pabrik bir mikro yang terhubung dengan 5G dengan memanfaatkan teknologi metaverse. Akademisi dari laboratorium teknologi pabrik bir di University of Technology Sydney telah berkolaborasi dengan para peneliti dari fasilitas kembar di Dortmund University di Jerman menggunakan augmented reality (AR).

Selain itu, saat berbicara di Forum Ekonomi Dunia (WEF) yang baru saja ditutup, kepala strategi global dan teknologi Nokia, Nishant Batra, mengatakan metaverse akan memiliki dampak langsung dan paling signifikan pada industri daripada pada pasar konsumen.