
Bank Nasional Swiss memangkas suku bunga untuk menstabilkan franc Swiss.
Bank Sentral Eropa menandakan pemotongan suku bunga lebih lanjut untuk mengatasi pertumbuhan zona euro yang lemah.
Dampak global mendorong Kanada, Brasil, dan negara lain untuk menyesuaikan kebijakan moneter.
Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih telah memaksa bank sentral Eropa untuk bertindak, dengan pemotongan suku bunga yang tidak terduga bertujuan untuk melindungi ekonomi mereka dari potensi gangguan perdagangan dan ketidakstabilan mata uang.
Bank Nasional Swiss (SNB) memulai pemotongan suku bunga setengah poin yang mengejutkan, menurunkan suku bunga menjadi 0,5%, terendah sejak September 2022. Bank Sentral Eropa (ECB) mengikuti dengan menurunkan suku bunga kunci menjadi terendah dalam 1,5 tahun dan menunjukkan bahwa pemotongan lebih lanjut akan segera dilakukan.
Kekhawatiran atas stabilitas franc Swiss telah mendorong SNB untuk mengambil langkah drastis di Swiss. Wakil presiden bank, Antoine Martin, menekankan bahwa risiko eksternal, terutama dari kebijakan potensial Trump, mengancam ekonomi Swiss secara signifikan.
SNB telah berjanji untuk menstabilkan franc, termasuk kemungkinan intervensi di pasar mata uang atau memperkenalkan kembali suku bunga negatif.
Demikian pula, ECB menghadapi tantangan karena pertumbuhan ekonomi yang lemah dan inflasi rendah yang terus-menerus menghambat pemulihan zona euro. Presiden ECB Christine Lagarde menggarisbawahi bahwa bank sentral beralih dari kebijakan moneter yang ketat, menandakan bahwa lebih banyak pemotongan suku bunga akan dilakukan hingga 2025.
Proyeksi terbaru ECB menunjukkan pengurangan harapan pertumbuhan zona euro untuk 2025, kini hanya 1,1%, turun dari 1,3%. Selain itu, inflasi tetap membandel di atas target, menimbulkan kekhawatiran bahwa ekonomi kawasan mungkin kesulitan untuk mendapatkan kembali momentum.
Langkah-langkah yang diambil oleh bank sentral Eropa mencerminkan kekhawatiran global yang lebih luas. Negara-negara lain juga telah menyesuaikan kebijakan moneter mereka dalam antisipasi kembalinya Trump.
Kanada, misalnya, telah memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin, sementara Brasil mengambil jalur berbeda, dengan menaikkan suku bunganya sebesar 100 basis poin untuk menstabilkan mata uangnya. Sementara itu, Federal Reserve di Amerika Serikat juga diperkirakan akan mengikuti dengan pemotongan suku bunga.
Saat para pembuat kebijakan global bertindak cepat, tetap jelas bahwa kembalinya Trump ke kursi kepresidenan memiliki dampak jauh di luar kebijakan moneter di seluruh dunia saat bank sentral bersiap untuk potensi dampak dari kebijakan perdagangan dan mata uangnya.
