Mari kita bayangkan skenario: 2025 dimulai dengan perubahan drastis di Gedung Putih. Donald Trump kembali ke kursi kepresidenan, dan Kongres, yang didominasi oleh Partai Republik, siap untuk menerapkan kebijakan yang dapat mendefinisikan kembali hubungan Amerika Serikat dengan China. Dunia mengamati, dan pertanyaan kunci adalah: bagaimana hubungan antara dua kekuatan besar ini akan berkembang?

China dan Amerika Serikat telah berlayar melalui perairan yang bergelora dalam beberapa tahun terakhir: ketegangan perdagangan, dilema Taiwan, COVID-19, dan rivalitas teknologi yang meningkat. Di bawah Trump, kemungkinan besar kita akan melihat sikap yang lebih konfrontatif. Janji tarif sebesar 60% hingga 200% pada produk China mengarah pada pengetatan ekonomi yang dapat menghidupkan kembali ketegangan perdagangan. Namun kali ini, dengan suatu putaran strategis: Trump bersikeras bahwa ia tidak mencari perang dagang, melainkan "keadilan ekonomi".

Kongres, pada gilirannya, mungkin akan mengambil langkah yang lebih drastis. Komisi Tinjauan Ekonomi dan Keamanan telah menyarankan untuk mengakhiri hubungan perdagangan normal dengan China, yang akan membuat Beijing berada di bawah pengawasan tahunan. Ini dapat berdampak mendalam pada perdagangan global.

Namun tidak semuanya adalah konfrontasi. Ada area di mana kedua kekuatan dapat berkolaborasi. Dalam memerangi perdagangan fentanil, kedua negara memiliki insentif yang jelas. Juga dalam keamanan pangan dan, berpotensi, dalam teknologi pertanian. Namun, isu seperti perubahan iklim menghadapi kemunduran yang signifikan, dengan Trump sekali lagi menjauh dari Perjanjian Paris.

Kemungkinan penunjukan Marco Rubio sebagai menteri luar negeri menambah nuansa lain. Posisi tegasnya terhadap komunisme bisa menjadi pedang bermata dua: pesan yang jelas kepada Beijing, tetapi juga menjadi penghalang untuk dialog.

Dalam konteks ini, pertanyaannya bukan hanya apa yang akan dilakukan Amerika Serikat, tetapi bagaimana China akan merespons. Kesiapannya untuk berdialog menunjukkan bahwa ia akan berusaha untuk bertahan, beradaptasi, dan mungkin, bahkan, memanfaatkan setiap kesalahan strategis Washington.