
Dalam perkembangan baru-baru ini yang dapat memiliki implikasi signifikan terhadap masa depan peraturan mata uang kripto di India, Mahkamah Agung, yang berfungsi sebagai otoritas peradilan tertinggi di negara tersebut, telah menolak untuk menerima permohonan yang meminta pedoman eksplisit untuk mengatur perdagangan dan penambangan mata uang kripto di India. negara.
Petisi tersebut, yang diajukan ke hadapan hakim yang dipimpin oleh Ketua Hakim D. Y. Chandrachud bersama dengan Hakim J B Pardiwala dan Manoj Misra, meminta arahan yang jelas dari pengadilan agar pemerintah pusat dapat menyusun pedoman yang komprehensif.
Pengadilan mengatakan bahwa keringanan utama yang diminta dalam permohonan tersebut tampaknya lebih sejalan dengan tindakan legislatif dibandingkan pemulihan konstitusional.
“Pemohon mempunyai kebebasan untuk berpindah ke pengadilan yang sesuai untuk mendapatkan jaminan reguler. Kalau keringanan pokoknya lebih bersifat arahan legislatif yang tidak bisa dikeluarkan oleh pengadilan berdasarkan Pasal 32 UUD,” kata D. Y. Chandrachud.
Peraturan Kripto India berada dalam Ketidakpastian
Perkembangan ini menimbulkan ambiguitas yang sedang berlangsung seputar lanskap regulasi mata uang kripto di India. Penolakan Mahkamah Agung untuk mengeluarkan pedoman khusus menambah rumitnya peraturan mata uang kripto, meninggalkan sektor ini dalam keadaan ketidakpastian.
Pada pertemuan G20 yang baru-baru ini berakhir, sinyal dari dalam pemerintah menunjukkan pendekatan yang berbeda terhadap peraturan mata uang kripto.
Meskipun larangan total pernah direncanakan oleh Reserve Bank of India, kemungkinannya kini kecil. Seorang pejabat senior pemerintah mengindikasikan bahwa perjanjian negara-negara G-20 untuk mengeksplorasi kerangka peraturan terkoordinasi untuk aset kripto telah mempengaruhi pendirian India.
Deklarasi para pemimpin G-20, yang mendukung rekomendasi Dewan Stabilitas Keuangan (FSB) untuk mengatur dan mengawasi aset kripto, telah membuka jendela dialog dan kontemplasi. Penekanan pada kerangka peraturan global yang terkoordinasi mencerminkan pemahaman tentang kompleksitas yang terlibat dalam pengelolaan risiko yang terkait dengan mata uang kripto, termasuk risiko khusus untuk pasar negara berkembang dan kekhawatiran terkait pencucian uang dan pendanaan teror.
Saat India menavigasi lanskap yang terus berkembang ini, usulan RUU Mata Uang Kripto, yang semula dijadwalkan untuk sidang parlemen pada tahun 2021, masih tertunda. Pertanyaan seputar status RUU dan otoritas regulasi untuk aset virtual, termasuk mata uang kripto dan token non-fungible (NFT), telah mendapat tanggapan dari Kementerian Keuangan.
Menteri Keuangan Negara, Shri Pankaj Chaudhary menekankan sifat aset kripto yang tanpa batas, menyoroti perlunya kolaborasi internasional dalam mencegah arbitrase peraturan.
Pajak Tinggi atas Keuntungan Cryptocurrency
Sikap pemerintah terhadap legalitas mata uang kripto di India masih sulit dipahami. Meskipun mata uang kripto sebagai media pembayaran tidak diatur oleh otoritas pusat mana pun, Union Budget 2022 baru-baru ini memperkenalkan pajak sebesar 30% atas keuntungan dari mata uang kripto dan potongan pajak sebesar 1% pada sumbernya.
Langkah ini menambah kompleksitas pemahaman tentang status hukum mata uang kripto di negara tersebut.
Penolakan baru-baru ini untuk mengeluarkan pedoman mengenai peraturan mata uang kripto, ditambah dengan perkembangan internasional dalam G-20, memberikan gambaran sebuah negara yang bergulat dengan kompleksitas ruang aset digital.
Ketika India menunggu kerangka peraturan yang lebih konkrit, para pemangku kepentingan, mulai dari investor hingga pelaku industri, menghadapi tantangan yang ditandai oleh ketidakpastian dan dinamika global yang terus berkembang. Perjalanan menuju kejelasan peraturan dalam lanskap mata uang kripto di India tetap menjadi narasi menarik di dunia keuangan digital yang terus berubah.
Pos Penolakan Mahkamah Agung India Menimbulkan Keraguan terhadap Masa Depan Regulasi Kripto India muncul pertama kali di Metaverse Post.
