Keuangan tradisional mengacu pada sistem dan lembaga keuangan yang telah ada selama beberapa dekade, seperti bank dan mata uang yang dikeluarkan pemerintah. Keuangan terdesentralisasi (DeFi) mengacu pada kategori baru sistem dan institusi keuangan yang dibangun di atas teknologi blockchain, yang memungkinkan kontrol dan kepemilikan terdesentralisasi.

Perbedaan utama antara keduanya adalah keuangan tradisional disentralisasi dan dikendalikan oleh sekelompok kecil institusi, sedangkan DeFi didesentralisasi dan dikendalikan oleh jaringan pengguna. Hal ini dapat mengarah pada sistem keuangan yang lebih terbuka, transparan, dan inklusif.

Selain itu, DeFi dibangun di atas teknologi blockchain sumber terbuka, sehingga dapat diakses oleh siapa saja yang memiliki koneksi internet, sedangkan keuangan tradisional biasanya hanya dapat diakses oleh mereka yang telah menjalin hubungan dengan lembaga keuangan.

Keuntungan Keuangan Terdesentralisasi

Keuangan terdesentralisasi (DeFi) memiliki beberapa keunggulan dibandingkan keuangan tradisional:

  1. Aksesibilitas: DeFi dibangun di atas teknologi blockchain sumber terbuka, sehingga dapat diakses oleh siapa saja yang memiliki koneksi internet, sedangkan keuangan tradisional biasanya hanya dapat diakses oleh mereka yang telah menjalin hubungan dengan lembaga keuangan.

  2. Ketidakpercayaan: Dalam keuangan tradisional, kepercayaan ditempatkan pada otoritas pusat atau perantara untuk memastikan bahwa transaksi dilaksanakan dengan benar. Di DeFi, kepercayaan ditempatkan pada kode dan protokol blockchain, memungkinkan transaksi tanpa kepercayaan.

  3. Transparansi: Transaksi DeFi dicatat di blockchain publik, memungkinkan transparansi dan audibilitas semua transaksi.

  4. Kekekalan: Setelah transaksi dicatat di blockchain, transaksi tersebut tidak dapat diubah, sehingga memastikan bahwa transaksi tersebut tidak dapat diubah dan catatannya tahan terhadap kerusakan.

  5. Resistensi sensor: Sistem terdesentralisasi lebih tahan terhadap sensor karena tidak ada titik kendali pusat, artinya tidak ada satu entitas pun yang dapat mencegah terjadinya transaksi.

  6. Interoperabilitas: Platform DeFi dapat berinteraksi satu sama lain melalui kontrak pintar, memungkinkan terciptanya produk dan layanan keuangan baru.

  7. Aset dengan imbal hasil tinggi: Banyak protokol DeFi menawarkan imbal hasil aset yang lebih tinggi dibandingkan lembaga keuangan tradisional, sehingga dapat menarik bagi investor.

  8. Kepemilikan terdesentralisasi: Protokol DeFi memungkinkan kepemilikan terdesentralisasi, artinya siapa pun dapat berpartisipasi dalam jaringan terlepas dari lokasi atau status keuangan mereka.

Keuntungan Keuangan Tradisional

Keuangan tradisional memiliki beberapa keunggulan dibandingkan keuangan terdesentralisasi (DeFi):

  1. Infrastruktur yang mapan: Keuangan tradisional telah ada selama beberapa dekade dan memiliki infrastruktur yang mapan, termasuk bank, badan pengatur, dan sistem pembayaran, yang memberikan tingkat stabilitas dan keandalan.

  2. Diterima secara luas: Mata uang tradisional, seperti dolar AS, diterima dan dipahami secara luas, sehingga memudahkan orang untuk menggunakan dan bertransaksi.

  3. Kerangka hukum yang kuat: Keuangan tradisional beroperasi di bawah kerangka hukum yang kuat, yang melindungi konsumen dan investor.

  4. Asuransi simpanan: Bank tradisional biasanya menawarkan asuransi simpanan, yang melindungi simpanan konsumen jika terjadi kegagalan bank.

  5. Riwayat kredit: Lembaga keuangan tradisional menyimpan catatan riwayat kredit individu dan perusahaan, yang dapat digunakan untuk menilai risiko peminjaman uang.

  6. Nasihat profesional: Lembaga keuangan tradisional memiliki penasihat keuangan profesional yang dapat memberikan nasihat dan bimbingan kepada individu dan bisnis.

  7. Perlindungan terhadap penipuan: Lembaga keuangan tradisional telah menetapkan sistem dan protokol untuk mencegah dan mendeteksi penipuan, yang dapat memberikan tingkat keamanan tambahan bagi konsumen.

  8. Pengawasan pemerintah: Lembaga keuangan tradisional tunduk pada pengawasan pemerintah, yang dapat membantu memastikan bahwa mereka beroperasi dengan aman dan sehat.

Faktor Risiko Keuangan Tradisional dan Terdesentralisasi

Baik keuangan tradisional maupun keuangan terdesentralisasi (DeFi) memiliki faktor risiko yang unik.

Faktor risiko keuangan tradisional meliputi:

  1. Risiko kredit: Risiko bahwa peminjam akan gagal membayar pinjamannya, sehingga menyebabkan kerugian bagi pemberi pinjaman.

  2. Risiko suku bunga: Risiko perubahan suku bunga akan berdampak buruk pada nilai instrumen keuangan.

  3. Risiko Likuiditas: Risiko dimana suatu lembaga tidak mampu memenuhi kewajiban keuangannya pada saat jatuh tempo karena lembaga tersebut tidak dapat melikuidasi asetnya dengan cukup cepat.

  4. Risiko operasional: Risiko kerugian karena proses internal, sistem, kesalahan manusia, atau peristiwa eksternal yang tidak memadai atau gagal.

  5. Risiko pasar: Risiko penurunan nilai investasi akibat perubahan kondisi pasar.

Faktor risiko keuangan terdesentralisasi (DeFi) meliputi:

  1. Risiko kontrak pintar: Risiko kontrak pintar mungkin mengandung bug atau kerentanan yang dapat dieksploitasi oleh pelaku jahat.

  2. Risiko Likuiditas: Risiko dimana mungkin tidak terdapat cukup pembeli atau penjual untuk suatu aset tertentu, sehingga sulit untuk diperdagangkan atau dilikuidasi.

  3. Risiko pasar: Risiko penurunan nilai investasi akibat perubahan kondisi pasar.

  4. Risiko volatilitas: Risiko nilai suatu aset digital dapat berfluktuasi dengan cepat dan tidak dapat diprediksi.

  5. Risiko peraturan: Risiko dimana pemerintah atau badan pengawas dapat mengambil tindakan yang berdampak negatif pada ekosistem DeFi.

  6. Risiko keamanan: Risiko dana atau aset pengguna dapat dicuri atau diretas.

Penting untuk dicatat bahwa risiko dapat dikurangi dengan melakukan diversifikasi investasi, melakukan penelitian menyeluruh, dan tetap mengetahui perkembangan terkini di lapangan.