Platform pesan sosial Telegram telah menerapkan perubahan signifikan pada peraturan obrolan pribadinya menyusul penangkapan CEO-nya, Pavel Durov, baru-baru ini.
Perusahaan telah memperluas kebijakan moderasi kontennya untuk mencakup obrolan pribadi, yang menandai perubahan dari sikap sebelumnya terhadap privasi pengguna. Menurut bagian Tanya Jawab yang diperbarui di situs web Telegram, platform tersebut kini akan memungkinkan pengguna untuk menandai konten dalam obrolan pribadi yang mereka yakini melanggar hukum. Pembaruan ini mencakup pengenalan tombol laporan di semua perangkat, termasuk aplikasi Android, iOS, dan desktop. Pengguna juga dapat mengirim email ke layanan penghapusan otomatis Telegram dengan tautan ke konten yang mereka yakini melanggar kebijakan platform.
Perubahan kebijakan Telegram terkait obrolan pribadi
Telegram menyatakan bahwa semua obrolan pribadi dan grup bersifat rahasia dan perusahaan tidak akan memproses permintaan moderasi apa pun yang terkait dengan obrolan tersebut. FAQ sebelumnya menyatakan, “Semua obrolan Telegram dan obrolan grup bersifat pribadi di antara para pesertanya. Kami tidak memproses permintaan apa pun yang terkait dengan obrolan tersebut.” Kebijakan baru ini menunjukkan adanya perubahan dalam pendekatan Telegram terhadap moderasi konten, yang mencerminkan upaya yang lebih luas untuk mengatasi masalah tentang aktivitas ilegal di platform tersebut.
Telegram diam-diam memperbarui FAQ, menghapus: "Semua obrolan Telegram dan obrolan grup bersifat privat di antara para pesertanya. Kami tidak memproses permintaan apa pun yang terkait dengannya." pic.twitter.com/ajWOOBAAB5
— db (@tier10k) 6 September 2024
Latar Belakang Penangkapan Durov dan Dampaknya
Kebijakan obrolan pribadi Telegram berubah setelah penangkapan Durov di Prancis. Pihak berwenang Prancis menuduh aplikasi pengiriman pesan itu menjadi perantara berbagai bentuk aktivitas ilegal, yang berujung pada penahanan Durov. Insiden ini mendorong Telegram untuk mempertimbangkan kembali praktik moderasinya, khususnya terkait komunikasi pribadi di platform tersebut.
Setelah dibebaskan, Durov membuat pernyataan publik pertamanya melalui Telegram. Ia mengungkapkan kebingungannya atas situasi di Prancis, dengan menyatakan, "Saya diberi tahu bahwa saya mungkin bertanggung jawab secara pribadi atas penggunaan Telegram secara ilegal oleh orang lain karena pihak berwenang Prancis tidak menerima tanggapan dari Telegram." Durov juga menyoroti bahwa Telegram memiliki perwakilan resmi di Uni Eropa yang bertanggung jawab untuk menanggapi permintaan hukum, yang menunjukkan bahwa pihak berwenang Prancis memiliki banyak cara untuk menghubungi perusahaan tersebut guna meminta bantuan.
Tanggapan Durov dan tindakan selanjutnya
Saya masih mencoba memahami apa yang terjadi di Prancis. Namun, kami mendengar kekhawatiran tersebut. Saya menetapkan tujuan pribadi untuk mencegah para pelaku penyalahgunaan platform Telegram mengganggu masa depan 950+ juta pengguna kami. Postingan lengkap saya ada di bawah. https://t.co/cDvRSodjst
— Pavel Durov (@durov) 5 September 2024
Durov mengkritik tindakan otoritas Prancis, dengan menyatakan bahwa tindakan hukum seharusnya diarahkan pada layanan itu sendiri, bukan CEO-nya. Ia menekankan bahwa Telegram berkomitmen untuk merilis konten yang berbahaya, dengan menyatakan bahwa platform tersebut menghapus jutaan kiriman dan saluran setiap hari. Durov juga mengakui bahwa pertumbuhan Telegram yang cepat hingga mencapai 950 juta pengguna telah menimbulkan tantangan dalam moderasi konten, yang telah dimanfaatkan oleh para penjahat.
Durov menyimpulkan bahwa peningkatan kemampuan platform untuk menangani tantangan ini kini menjadi prioritasnya. Hal ini menunjukkan bahwa pembaruan lebih lanjut terhadap kebijakan moderasi Telegram mungkin akan segera dilakukan karena perusahaan berupaya menyeimbangkan privasi pengguna dengan kebutuhan untuk mematuhi kewajiban hukum.
Postingan Telegram Memperbarui Kebijakan Obrolan Pribadi Setelah Penangkapan CEO Pavel Durov pertama kali muncul di Coinfea.
