
Cryptocurrency, dunia yang terkenal dengan inovasi dan desentralisasinya, memiliki sisi gelap yang menjadi berita utama. Baru-baru ini, Elliptic, sebuah perusahaan manajemen risiko kripto, memberikan kejutan: dana terlarang yang dicuci melalui bursa terdesentralisasi (DEX), jembatan lintas rantai, dan layanan pertukaran koin telah mencapai angka $7 miliar.
Perekonomian bawah tanah ini berkembang lebih cepat dari perkiraan, sehingga menimbulkan tantangan serius bagi penegakan hukum. Baca terus untuk mengetahui lebih lanjut.
Kejahatan Lintas Rantai: Apa Itu?
Pada intinya, pencucian kripto lintas rantai dapat disamakan dengan permainan cangkang (shell game) yang canggih dalam dunia mata uang kripto. Bayangkan ini sebagai sebuah cara bagi para penjahat untuk memainkan permainan petak umpet yang berisiko tinggi dengan keuntungan haram mereka. Begini cara kerjanya:
Menukar Mata Uang Kripto: Langkah pertama dalam tarian rumit ini adalah menukar satu mata uang kripto dengan mata uang kripto lainnya. Ini mirip dengan menukar dolar dengan euro di gerai valuta asing. Namun, dalam kasus ini, ini bukan tentang kenyamanan selama liburan; ini tentang menyembunyikan jejak uang.
Berbagai Token dan Blockchain: Yang membuat pencucian kripto lintas rantai menjadi menarik adalah karena pencucian ini melibatkan perpindahan antara berbagai token dan blockchain. Seperti token dan blockchain seperti berbagai bank dan mata uang di berbagai negara. Dengan memindahkan dana mereka melalui jaringan yang rumit ini, para penjahat membuat siapa pun kesulitan melacak asal atau tujuan uang tersebut.
Jubah Anonimitas: Untuk memahami mengapa penjahat menggunakan teknik ini, anggap saja ini setara dengan menyamar saat melakukan pencurian. Tujuannya adalah untuk menyembunyikan sumber uang, sehingga hampir mustahil bagi penyidik untuk melacak jejak uang tersebut. Ini berarti bahwa meskipun Anda ingin mengungkap kejahatan finansial, Anda akan menemui hambatan rumit berupa kriptografi.
Perubahan Tren Kripto:
Lupakan apa yang pernah Anda dengar tentang Bitcoin sebagai pilihan utama bagi pelaku kejahatan. Zaman telah berubah. Porsi Bitcoin dalam aktivitas blockchain ilegal telah turun dari 97% pada tahun 2020 menjadi hanya 19% pada tahun 2022. Para pelaku kejahatan kini lebih memilih mata uang kripto seperti Tether (USDT) dan USD Coin (USDC) karena lebih mudah diperoleh dan menawarkan lebih banyak anonimitas.
Mengapa Stablecoin Menjadi Favorit Para Penjahat
Stablecoin, yang dikaitkan dengan mata uang yang didukung pemerintah, telah menjadi sahabat karib para penjahat dunia maya. Stablecoin menawarkan stabilitas dan anonimitas yang sangat cocok untuk pencucian uang. Pergeseran ini menandai perubahan signifikan sejak Bitcoin menguasai dunia keuangan ilegal.
Bagian yang paling mengejutkan adalah pertumbuhan kejahatan lintas rantai telah melampaui prediksi Elliptic. Mereka awalnya mengira akan mencapai $6,5 miliar pada akhir tahun 2023, tetapi ternyata sudah mencapai $7 miliar. Para penjahat menjadi lebih pintar dan beradaptasi lebih cepat dari yang diharapkan, membuat kehidupan menjadi sulit bagi pihak berwenang.
Efek “Pengungsian Kejahatan”
Meningkatnya kejahatan lintas rantai ini tidak terjadi begitu saja. Penjahat kripto tradisional merasakan tekanan dari penegak hukum, yang mendorong mereka untuk mencari cara baru. Ini seperti permainan kucing dan tikus. Penjahat mencari cara baru untuk tetap selangkah lebih maju dari hukum.
Kesimpulan
Pencucian mata uang kripto lintas rantai adalah dunia dinamis yang menantang regulator dan penegak hukum. Mata uang kripto menjadi arus utama, tetapi kita tidak dapat mengabaikan sisi gelap dunia digital ini. Angka $7 miliar dari Elliptic bukan sekadar angka; ini adalah pengingat bahwa perang melawan kejahatan kripto masih jauh dari selesai.
Seiring berjalannya waktu, kita akan melihat pertempuran yang lebih sengit melawan aktivitas keuangan ilegal. Industri kripto perlu beradaptasi dan berinovasi untuk melindungi dirinya dan penggunanya dari mereka yang mencoba mengeksploitasi kelemahannya.

