Perilisan NFT Mercedes-Benz menemui masalah yang signifikan, dan berikut ini alasan mengapa hal itu menjadi masalah.
Mercedes-Benz sebelumnya pernah sukses meluncurkan NFT, yang pertama pada bulan Juni '23 dan yang kedua baru-baru ini di acara privat selama balapan F1 Singapura. 🏁 Namun, peluncuran NFT terbaru mereka, yang berlangsung minggu lalu, menghadapi tantangan besar. Mari kita bahas detailnya.
Di dunia nyata, Mercedes-Benz membanggakan pasar barang koleksi yang berkembang pesat. Mereka ingin meniru kesuksesan ini di dunia digital melalui teknologi blockchain, yang menyasar audiens Web3. Yang terpenting, Mercedes menekankan bahwa NFT mereka benar-benar barang koleksi tanpa manfaat yang menyertainya, dan mereka menyatakan komitmen jangka panjang terhadap upaya ini. 📆
Hasilnya? Hanya 7% dari total 2.649 NFT yang berhasil dicetak. 📉
Mercedes-Benz memulai lelang Belanda dengan kisaran harga mulai dari 1 ETH dan terendah pada 0,1 ETH. 💸
Koleksi NFT cukup besar, terdiri dari 2.694 NFT.
Tidak ada proposisi nilai yang menarik untuk membenarkan harga yang relatif lebih tinggi. ❓
Meskipun kendala teknis memang muncul selama proses pencetakan, kemungkinan besar kendala tersebut tidak berdampak signifikan.
Masalah utama yang dihadapi adalah sebagai berikut:
Loyalitas Merek Terbatas: Sebagian besar pembeli NFT berfokus pada keuntungan jangka pendek, terlepas dari ukuran atau reputasi merek. 😐
Kurangnya Insentif Spekulatif: Spekulan mencari alasan untuk mengantisipasi kenaikan harga di masa depan dan menilai titik masuk dan keluar.
Realitas Pasar: Pasar NFT saat ini memiliki jumlah dompet aktif yang terbatas (sekitar 10.000), sehingga tidak realistis untuk menargetkan 27% pangsa pasar pembeli NFT. 📱
Mengabaikan Umpan Balik Komunitas: Mereka yang mendukung koleksi NFT Mercedes sebelumnya merasa tidak didengar dan diabaikan. Komunitas telah menyampaikan kekhawatiran tentang harga dan pasokan, yang tidak dihiraukan. 👥
Berikut beberapa pelajaran untuk merek:
Tetapkan Sasaran yang Jelas: Nyatakan tujuan Anda dengan jelas, baik itu pendapatan, pembangunan komunitas, atau sasaran bisnis lainnya. Sadarilah bahwa mencapai semuanya secara bersamaan mungkin tidak memungkinkan. 🎯
Transisi Web2 ke Web3: Keberhasilan di Web2.0 tidak menjamin keberhasilan di Web3. Merek seperti Mercedes dan Porsche menghadapi tantangan dalam transisi ini. Jangan melebih-lebihkan dampak Anda. 🔍
Membangun Penggemar Berat Web3 Membutuhkan Waktu: Membangun pengikut Web3 yang loyal membutuhkan waktu. Pada tahap awal, Anda mungkin akan bertemu dengan orang-orang yang sensitif terhadap harga dan kurang loyal. ⏳
Pertimbangkan Pendekatan Web2.5: Bergantung pada tujuan Anda, pertimbangkan untuk menjembatani kesenjangan antara Web2.0 dan Web3 untuk melibatkan kedua audiens.
Terapkan Budaya Web3: Kenali dan libatkan komunitas Anda dalam pengambilan keputusan. 🤝
Perspektif alternatifnya adalah jika tujuannya adalah untuk mengidentifikasi dan menarik pengguna setia dari Web3, Mercedes mungkin telah berhasil, meskipun itu berarti hanya beberapa ratus pengguna. Pendekatan ini dapat membuahkan hasil dalam jangka panjang. 😇