Upaya de-dolarisasi yang dimulai awal tahun ini mendapatkan momentum di negara-negara berkembang di seluruh dunia. Aliansi BRICS bukan satu-satunya kelompok negara yang berupaya mengurangi ketergantungan mereka pada dolar AS. Indonesia, yang terinspirasi oleh upaya de-dolarisasi BRICS, kini berupaya beralih dari dolar AS untuk perdagangan global.

Presiden Indonesia Joko Widodo telah mengambil langkah-langkah untuk mempromosikan mata uang lokal mereka, Rupiah. Ia telah mengarahkan pembentukan Satuan Tugas Nasional untuk mencari cara meningkatkan penggunaan transaksi mata uang lokal (LCT) di antara negara-negara mitra. Bank Sentral negara ini bertujuan untuk meningkatkan pembayaran dalam Rupiah untuk transaksi bilateral. Langkah Indonesia menuju de-dolarisasi adalah bagian dari tren yang lebih luas di antara negara-negara berkembang yang memprioritaskan perekonomian negara asal mereka dengan menempatkan mata uang lokal dibandingkan dolar AS. Negara-negara seperti India, Tiongkok, Rusia, Argentina, Pakistan, dan UEA sudah mulai menggunakan mata uang lokal untuk berdagang. Dengan terbentuknya Gugus Tugas Nasional, Indonesia ikut serta dalam inisiatif yang berkembang ini. Peralihan dari dolar AS dalam transaksi lintas batas di Indonesia berpotensi mengurangi permintaan terhadap greenback dan berkontribusi dalam menstabilkan Rupiah dan perekonomian domestik Indonesia. Langkah ini dapat menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi bisnis untuk berkembang.