Cryptocurrency terbukti menjadi pelindung yang nyata terhadap gejolak ekonomi di banyak negara yang menghadapi krisis keuangan yang parah. Beberapa negara, terutama di Afrika, termasuk Nigeria, telah menyaksikan lonjakan dalam penggunaan cryptocurrency, khususnya Bitcoin, sebagai cara cerdas untuk melindungi kekayaan mereka.

Data dari Chainalysis menunjukkan bahwa Nigeria, salah satu ekonomi terbesar di Afrika, mengalami lonjakan 9% dalam adopsi cryptocurrency, totalnya mencapai $56.7 miliar pada bulan Juni dibandingkan dengan Juli tahun lalu.

Kekuatan pendorong utama di balik meningkatnya adopsi cryptocurrency di Nigeria adalah tingkat inflasi yang tinggi. Ketika inflasi naik, mata uang lokal kehilangan nilainya, mengikis kekayaan orang-orang.

Pada bulan Agustus, Nigeria mencatat tingkat inflasi sebesar 25,8%. Menurut data Trading Economics, angka ini terus meningkat sejak Januari 2023, mulai dari 21,82%, lalu mencapai 22,22% pada bulan April dan 24,08% pada bulan Juli.

Upaya pemerintah untuk mendesain ulang mata uang lokal dan mencetak uang kertas baru untuk memerangi inflasi menghadapi tantangan. Pasokan uang tunai menjadi terbatas, sehingga memberi tekanan dan menimbulkan ketidakpastian bagi mereka yang tidak memiliki rekening bank, yang pada akhirnya semakin memperparah inflasi.

“Kondisi ekonomi yang tidak stabil di Nigeria telah mendorong banyak warganya untuk mencari alternatif keuangan, sehingga meningkatkan nilai tawaran mata uang kripto,” catat Chainalysis.

Banyak warga Nigeria, terutama generasi muda, beralih ke aset seperti Bitcoin (BTC) dan stablecoin untuk mempertahankan kekayaan mereka saat mereka menyaksikan nilai mata uang lokal terus mengalami depresiasi.

Akibatnya, tidak mengherankan jika transaksi Bitcoin mendominasi wilayah Afrika Sub-Sahara. Menurut data Chainalysis, wilayah ini menyumbang 9,3% dari total volume transaksi Bitcoin global dari Juli 2022 hingga Juni 2023.

Sebagai perbandingan, wilayah lain seperti Amerika Utara dan Eropa Timur masing-masing menyumbang 9,0% dan 8,2% dari total transaksi Bitcoin global. Orang-orang di wilayah tersebut memandang Bitcoin sebagai emas digital, yang menawarkan pelestarian kekayaan yang lebih baik dibandingkan produk perbankan tradisional.

Moyo Sodipo, pendiri sekaligus Chief Product Officer (CPO) dari bursa kripto Busha yang berbasis di Nigeria, menyatakan bahwa platform mereka mulai populer pada 2019 dan 2020. Saat terjadi kegilaan terhadap Bitcoin, banyak yang memilih BTC dibanding stablecoin. Namun, seiring dengan fluktuasi harga Bitcoin, kini muncul keinginan di kalangan komunitas untuk melakukan diversifikasi antara BTC dan stablecoin.

“Orang-orang terus mencari peluang untuk melindungi diri dari penurunan nilai naira dan memburuknya kondisi ekonomi yang berkelanjutan,” kata Sodipo.

Kejelasan dalam Regulasi Mendorong Penggunaan Kripto

Pada tahun 2022, Otoritas Pelaksanaan Sektor Keuangan (FSCA) mulai membuka diri terhadap kripto, dengan mengategorikannya sebagai produk keuangan. Hal ini memberikan kejelasan mengenai status aset berisiko tinggi yang sebelumnya tidak diatur.

Kejelasan ini telah mendorong lebih banyak orang untuk menggunakan mata uang kripto tidak hanya sebagai lindung nilai, tetapi juga sebagai sarana investasi.

Marius Reitz, General Manager untuk Afrika di Luno, menyoroti bahwa penggunaan mata uang kripto di Afrika Selatan saat ini didominasi oleh investor. Hal ini tercermin dari pertumbuhan 50% pada saldo kripto di platform Luno.

Menurut Reitz, kejelasan regulasi telah membuat pengembangan bisnis aset digital menjadi lebih bertanggung jawab.

Pernyataan Penyangkalan: Setiap keputusan investasi berada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Crypto. cryptoizresearch.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.