Departemen Keuangan AS merilis data resmi terbaru pada 16 Oktober. Hingga 30 September, defisit anggaran tahun fiskal 2026 melebar sebesar 217 miliar dolar AS dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai 1,99 triliun dolar AS. Angka ini bukan hanya yang tertinggi dalam hampir lima tahun, tetapi juga merupakan defisit fiskal tahunan terbesar ketiga dalam sejarah AS, dengan rasio terhadap PDB naik menjadi 6,2%.
Data ini memicu perbincangan luas, terutama karena lonjakan belanja bunga dan tekanan terhadap pendapatan fiskal. Meski total pendapatan selama tahun fiskal mencapai rekor 5,40 triliun dolar AS, total belanja bahkan mencapai 7,40 triliun dolar AS. Di antaranya, belanja bunga utang naik 12% menjadi rekor tertinggi 1,36 triliun dolar AS. Selain itu, keputusan Mahkamah Agung yang membatalkan sebagian kebijakan tarif memicu pengembalian dana sebesar 145 miliar dolar AS, sehingga pendapatan bersih dari tarif langsung turun menjadi sekitar 173 miliar dolar AS dan semakin memperparah ketimpangan antara pemasukan dan pengeluaran.
Menghadapi defisit fiskal sebesar itu, pasar keuangan tradisional kembali menilai pasokan obligasi pemerintah AS dan arah suku bunga. Defisit yang sangat besar berarti Departemen Keuangan mungkin perlu mempertahankan atau bahkan meningkatkan penerbitan obligasi ke depannya. Hal ini membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS dan pergerakan dolar menghadapi dinamika yang kompleks. Biaya pembayaran utang yang tinggi juga dapat membatasi ruang penyesuaian kebijakan moneter di masa mendatang.
Bagi pasar kripto, kondisi likuiditas makro tetap menjadi fokus utama para investor. Defisit fiskal yang terus membesar membuat sebagian investor mencermati perubahan daya beli mata uang fiat dan aset terdesentralisasi. Namun, suku bunga tinggi masih menekan selera risiko secara keseluruhan. Saat ini, pasar cenderung bersikap menunggu dan melihat, sementara arus dana masih bergantung pada dinamika likuiditas selanjutnya.
$BTC #USBudget #MacroEconomics #CryptoLiquidity