Menambang 1 Bitcoin mengkonsumsi sekitar 266.000 kWh listrik, jumlah yang sebanding dengan konsumsi listrik sebuah rumah tangga rata-rata selama lebih dari 20 tahun.
๐ Poin kunci:
1. Tidak tetap: Konsumsi tergantung pada:
ยท Kesulitan jaringan: Disesuaikan setiap 2 minggu; semakin banyak penambang, semakin banyak kompetisi dan semakin banyak energi yang dibutuhkan.
ยท Perangkat keras: Penambang ASIC efisien (seperti model Antminer) mengkonsumsi lebih sedikit energi untuk setiap Bitcoin yang ditambang.
ยท Biaya energi: Ini adalah faktor terpenting untuk profitabilitas.
2. Biaya bervariasi per negara:
ยท Di negara-negara dengan energi murah (misalnya: Paraguay, Iran, Kazakhstan), biayanya bisa sekitar $9.000 USD.
ยท Di negara-negara dengan energi mahal (misalnya: Uruguay, Chili, Jerman), biayanya bisa melebihi $50.000 USD.
3. Dampak lingkungan:
ยท Meskipun konsumsi sangat besar, diperkirakan lebih dari 50% dari penambangan global sudah menggunakan sumber energi terbarukan.
4 Iklim: Tempat-tempat dingin (seperti Siberia atau Kanada) mengurangi biaya pendinginan peralatan.
5. Kebijakan pemerintah: Negara-negara dengan kerangka hukum yang menguntungkan (misalnya: El Salvador) atau pengecualian pajak (misalnya: Georgia) menarik lebih banyak penambang.
6. Sumber energi: Energi terbarukan (hidroelektrik, geotermal, solar) biasanya lebih murah dan berkelanjutan.
๐ Kesimpulan:
Penambangan Bitcoin sangat intensif dalam energi. Angka ~266.000 kWh adalah estimasi rata-rata, tetapi konsumsi nyata untuk "menambang 1 Bitcoin" dapat bervariasi secara besar-besaran tergantung di mana dan bagaimana itu dilakukan.
#Minar #BTC #criptonews #BinanceSquareFamily #LibertadFinanciera