Di dunia di mana pemimpin perusahaan sering menghasilkan jutaan sementara pekerja menghadapi ketidakpastian pekerjaan, kisah Haruka Nishimatsu, mantan CEO Japan Airlines, menonjol sebagai contoh langka dari kerendahan hati dan tanggung jawab dalam kepemimpinan. Selama krisis keuangan yang mengancam pemutusan hubungan kerja masal, Nishimatsu membuat keputusan luar biasa: ia memotong gajinya sendiri menjadi kurang dari yang diperoleh banyak pilot, memilih untuk menanggung pengorbanan itu sendiri daripada membebankannya kepada karyawan.
Ia naik bus umum untuk bekerja, mengenakan jas murah, dan makan di kafetaria perusahaan bersama mekanik dan pramugari. Filsafatnya sederhana — pemimpin tidak seharusnya bersembunyi di balik pintu tertutup sementara pekerja menghadapi kesulitan. Dengan berbagi perjuangan yang sama dengan stafnya, ia memperkuat kepercayaan dalam perusahaan yang menghadapi jam-jam tergelapnya.
Tindakannya membantu Japan Airlines stabil selama tahun-tahun yang penuh gejolak, dan karyawan yang menjalani periode itu sering membicarakannya dengan rasa hormat yang mendalam. Nishimatsu percaya bahwa aset terbesar perusahaan adalah orang-orangnya, dan bahwa tidak ada pemimpin yang pantas mendapatkan kenyamanan sementara tim mereka menderita.
Di era ketidaksetaraan yang semakin melebar, kisahnya tetap menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sejati diukur bukan dari margin keuntungan, tetapi dari empati dan integritas.
#Leadership #JapanAirlines #HumanityInBusiness #CorporateResponsibility #Empathy