Saya tidak benar-benar mengerti daya tarik asisten AI sampai saya mulai menggunakannya di dalam aplikasi yang sudah setiap hari saya pakai.
Itulah yang membuat #MiraAi berbeda bagi saya.
Saya tidak perlu menghentikan apa yang sedang saya lakukan, membuka situs AI lain, menjelaskan konteks yang sama lagi, lalu membawa jawabannya kembali.
Saya cukup melanjutkan percakapan.
Kalau saya sedang meneliti proyek kripto, saya bisa meminta Mira untuk menguraikannya.
Kalau saya menemukan sesuatu yang menarik, saya bisa meminta ringkasan.
Kalau muncul ide untuk sebuah postingan, saya bisa mengubah ide itu menjadi konten.
Kalau saya butuh pengingat nanti, saya bisa menyetelnya tanpa keluar dari obrolan.
Dan saat saya mengerjakan konten Web3, itu ternyata sangat berguna.
Satu percakapan bisa beranjak dari:
“Sedang terjadi apa dengan proyek ini?”
tapi lalu
“Jelaskan dengan sederhana.”
lalu
“Berikan poin-poin pentingnya.”
lalu
“Ubah ini menjadi postingan X.”
Itu bagian yang tidak saya duga.
Mira bukan sekadar chatbot lain yang sesekali saya tanya.
Rasanya lebih seperti punya ruang kerja yang berada di dalam Telegram.
Dan saya pikir, di situlah asisten AI akan menuju.
Bukan sesuatu yang Anda buka hanya saat Anda punya pertanyaan.
Sesuatu yang diam-diam menjadi bagian dari cara Anda meneliti, membuat, menyusun, dan menyelesaikan pekerjaan.
Saya baru menggores permukaan dari apa yang bisa dilakukan #MiraAi, tapi alur kerjanya sudah terasa berbeda.
Lebih sedikit memikirkan alat apa yang harus dibuka.
Lebih banyak memikirkan apa yang benar-benar ingin saya selesaikan.
#MiraInTelegram