Abena terbangun oleh rasa panas dari keringat dingin saat suara kakak lelakinya terdengar sampai padanya. “Abena, bangun, mama memanggilmu,” katanya dengan lembut sambil mengetuk-ngetuknya. “Ada apa?” sesuatu telah terjadi. “Seseorang tersetrum kemarin malam di depan kios ibu Maame.” Begitu Abena mendengar kalimat itu, ia langsung bangun. “Apa yang terjadi dengan keluarga calon mertua kita?” tanyanya setengah mengantuk, dengan kaget dan rasa ingin tahu yang tulus. Pertanyaan itu membuat kakaknya memerah, tapi kemudian ia segera tersadar; ia menyadari dan mengingat bahwa yang bertanya adalah Abena. Wajahnya menjadi serius. “Mama menyuruhku memberitahumu bahwa lampu akan padam sepanjang hari. Jadi, pergilah dan belilah air serta beberapa balok es untuk mengisi dan menjaga agar kulkas tetap dingin, kalau tidak, barang-barangnya akan rusak.” “Baik,” katanya. “Lalu bagaimana dengan keluarga calon mertua kita?” Abena menanyakan itu sebagai jawaban atas pesan kakaknya, yang langsung dijawab olehnya dengan cepat, “Mama sudah mengirimmu.” Lalu ia mencoba pergi.