Beli Kripto
Bayar menggunakan
NFT
New
Unduh
English
USD

Mimpi 50 sen: Bagaimana Blockchain Membawa Anak-anak Uganda Kembali ke Sekolah

2019-03-15

Untuk banyak orang, 50 sen adalah sebuah jumlah yang kecil dan tidak berharga. Akan tetapi untuk anak-anak di Uganda, jumlah yang kecil ini dapat membuat perbedaan antara masa depan yang cerah dan hidup dalam kelaparan.

Hanya dibutuhkan 50 sen untuk memberikan makan anak-anak di Uganda melalui makan pagi dan siang setiap harinya. Beberapa sekolah, seperti Jolly Mercy Learning Centre di Uganda, berjuang untuk mensponsori makanan untuk lebih dari 200 murid, akan tetapi mereka juga membutuhkan sumberdaya. Sebagai hasilnya, kelaparan menjadi sebuah masalah besar pada sekolah. Pelajar mengikuti kelas mereka dengan perut yang kosong di siang hari. Beberapa berhenti bersekolah sepenuhnya.

Melalui program Binance Charity yang bernama Lunch for Children, donasi crypto dapat menjadi makanan untuk murid-murid tersebut. Pada saat mereka menggunakan donasi ini untuk membayar makan siang, anak-anak dapat mempelajari bagaimana blockchain dapat membawa perubahan dan memberikan mereka sebuah kesempatan untuk menjadi satu langkah lebih dekat kepada mimpi mereka. Satu bulan setelah program tersebut pertama kali dimulai di Jolly Mercy Learning Centre, 181 anak-anak dapat memakan makan siangnya setiap hari. Lebih baik lagi, 39 anak-anak sudah kembali bersekolah dimana mereka tidak lagi perlu memikirkan rasa lapar.

Tontonlah video ini untuk melihat bagaimana program Lunch for Children milik Binance Charity memberikan sebuah masa depan yang lebih baik untuk anak-anak di Uganda.

Bacalah cerita dari tiga anak Uganda, yang masa depannya mulai dibangun, setahap 50 sen.

Joen: “Saya sangat beruntung dapat mendapatkan bantuan. Sekarang saya ingin membantu.”

Joen adalah seorang yatim di desa Kasangati. Pada saat ia berumur 6 tahun, ayahnya meninggal dari komplikasi yang disebabkan oleh AIDS, sebuah penyakit yang sangat mematikan yang sangat umum di Uganda, yang memiliki 1.3 juta pembawa HIV dan 5.9% rasio tertularnya orang dewasa.

Joen lalu diadopsi oleh Jolly Mercy, dimana ia memiliki performa yang baik. Ia lulus dari sekolah tahun lalu dan mendaftarkan dirinya di sekolah menengah. Seorang yang bertalenta sebagai penyanyi, ia ingin mengejar mimpinya untuk menjadikan nyanyiannya sebagai karirnya, akan tetapi ia berpikir bahwa itu adalah mimpi yang sangat mahal. “Saya merasa bahwa saya akan lebih baik menjadi pengacara, sehingga saya dapat mendapatkan banyak uang untuk keluarga saya dan membantu orang lain,” katanya.

Walaupun ia sudah lulus dari Jolly Mercy, Joen, yang sekarang berumur 16 tahun, kembali ke sekolah setiap harinya. Ia bangun jam 05:00 setiap paginya, disaat masih gelap, untuk membantu neneknya, juru masak sekolah dan salah seorang orang tua murid. Pada jam 07:00 pagi, ia melambaikan salamnya kepada sang nenek dan berjalan ke sekolah menengahnya untuk memulai harinya. Dua jam waktu yang digunakannya untuk membantu sangat berarti kepada sekolahnya, yang mengalami masalah pendanaan yang sangat serius.

Tahun ini, Joen menawarkan dirinya menjadi sukarelawan untuk program Lunch for Children untuk membimbing orang tua murid untuk membuka dompet mata uang digitalnya sendiri. Untuk kebanyakan orang tua murid, ini adalah satu-satunya kesempatan untuk memiliki dompet dan akun mereka sendiri. Mereka tidak memiliki akses kepada tanah dan pekerjaan yang menghalangi mereka untuk memiliki sumber pendapatan yang tetap. Membuka akun bank, yang sangat mahal untuk dibuka dan dikelola, tidak dapat menjadi opsi.

“Saya sangat beruntung untuk mendapatkan dukungan dari Jolly Mercy Learning Centre dan masyarakat yang dermawan, dan saya sangat menghormati mereka. Akan tetapi, saya tahu bahwa masih ada ratusan anak-anak yang bernasib buruk yang masih menderita dikarenakan permasalahan yang sama seperti saya, maka dari itu saya hanya ingin membantu menggunakan tangan saya” katanya.

Bratrice: “Air adalah makanan.”

Sekolah dengan kualitas terbaik memiliki 649 murid yang terdaftar, akan tetapi hanya 28 dari mereka dapat membeli makanan yang disediakan oleh sekolah. Banyak keluarga di uganda yang hanya dapat mengirimkan anak mereka ke sekolah negeri, dimana tidak ada uang sekolah. Akan tetapi, anak-anak ini seringkali tidak dapat membeli makanan, maka dari itu mereka harus tinggal dalam kelas dengan perut yang kosong.

Sekitar 200 anak murid harus berjalan kembali ke rumah mereka untuk makan siang setiap harinya. Dan yang lainnya harus melawan kelaparan dengan meminum air. Bratrice, seorang murid kelas 6 SD, adalah salah satu anak yang meminum air sebagai pengganti makan siang setiap harinya, ia seringkali terlalu lapar untuk dapat berbicara atau untuk berfokus di dalam kelas. Akan tetapi ia masih memiliki harapan untuk masa depan. Ia memiliki banyak sekali teman, sehingga ia bermimpi untuk menjadi seorang ahli bedah untuk membantu orang-orang di desanya.

Elijah: “Saya ingin menjadi seorang insinyur.”

Elijah adalah seorang murid dari Jolly Mercy. Berumur 10 tahun, seorang anak lelaki yang sangat cerdas dengan mata yang polos, cinta terhadap sains dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Seperti teman-temannya, ia belajar komputer dari papan tulis dan memakan tepung maizena dan kacang-kacangan untuk makan siang setiap harinya. Pada saat kami bertanya mengenai pelajaran komputernya, ia menjadi sangat bergairah. “Guru akan menggambar sebuah komputer besar pada papan tulis dan mengajarkan kita tentang setiap komponen dalam komputer,” katanya, “saya berharap guru dapat memberikan pelajaran komputer selepas makan siang, sehingga saya tidak akan merasa selapar ini di kelas.”

Binance mendonasikan dua komputer kepada sekolah, untuk membantu keluarga yang tidak dapat menggunakan smartphone untuk membuka dompet crypto dan menerima donasi. Sejak ia melihat komputer, Elijah sangat terpikat dengannya sehingga ia dapat menghabiskan seluruh harinya dekat mereka, mempelajari mengenai mata uang digital dan blockchain.

Ia mulai mempelajari mengenai dompet crypto dan bagaimana ia dapat menggunakannya untuk membeli makan siang. Ia engerti bahwa orang tuanya dapat membeli makan siang -- semangkuk bubur jagung yang dipanggil ugali, bersama dengan sedikit sayuran dan kacang-kacangan -- dengan sebuah klik. Sekarang ia tahu bahwa semua informasi ini disimpan dalam sesuatu yang dinamai blockchain.

Seorang anak berumur sepuluh tahun di Uganda yang memiliki lebih banyak pengetahuan mengenai blockchain dibandingkan dengan orang sebayanya di Tiongkok atau Amerika Serikat.

“Cita-citaku adalah menjadi seorang insinyur, sehingga saya dapat membantu anak-anak di Uganda mendapatkan makanan yang lebih bernutrisi di masa depan,” kata Elijah.

Blockchain membawa anak-anak kembali ke sekolah

Di Uganda, banyak anak tidak tahu bagaimana kentang tumbuh dari dalam tanah. Alasannya adalah: banyak dari mereka tidak pernah melihat kentang seumur hidupnya. Uganda memiliki cuaca terbaik dan lahan tersubur untuk bercocok-tanam, akan tetapi tidak semuanya memiliki akses untuk pertanahan. Anak-anak bertumbuh dalam keluarga miskin yang kadangkala harus berhenti sekolah dikarenakan kelaparan. Untuk mereka, jarak antara mereka dengan mimpinya, menjadi artis, ahli bedah, atau insinyur hanya berharga beberapa sen makan siang. Kami ingin anak-anak ini untuk tetap berada di sekolah, dan blockchain mengizinkan kami untuk menjaga mereka agar tetap disana, dan lebih banyak lagi.

Tahun ini, Binance Charity meluncurkan inisiatif Lunch for Children, yang didedikasikan kepada penggunaan mata uang digital untuk mendukung makan siang gratis untuk anak murid. Inisiatif ini dimulai di Jolly Mercy Learning Centre di Uganda, dimana 200 anak-anak mendapatkan donasi crypto dari seluruh dunia. Donasi tersebut ditransfer dalam hitungan detik dengan bantuan blockchain dan mata uang digital. Dengan sistem yang transparan dan abadi, beberapa sen dapat berarti makanan yang bernutrisi dalam mangkuk anak murid, anak murid yang lebih sehat, dan masa depan yang lebih baik.

Setelah Jolly Mercy, Binance Charity akan mendukung 10 lagi sekolah di Uganda melalui program Lunch for Children. Sekolah pilihan selanjutnya adalah  Best Quality, sebuah sekolah pedalaman di distrik Wakiso di Uganda. Sekolah ini menyediakan edukasi dari jenjang Taman Kanak Kanak sampai dengan jenjang Sekolah Dasar sepanjang tahun untuk anak-anak yang tinggal di pemukiman kumuh di sekitarnya. Sekarang sekolah ini memiliki 649 murid, termasuk di dalamnya 230 murid perempuan. Semua murid di Best Quality tidak dapat membeli makanan yang layak, dan 86% dari mereka tidak dapat memiliki penghidupan yang layak. Dengan donasi anda, kami berharap anak-anak tersebut tidak harus lagi kuatir mengenai makan siang mereka. Mereka akan memiliki perut yang kenyang dan pikiran yang tajam untuk dapat berfokus kepada pembelajaran. Mereka juga akan memiliki sebuah dapur yang aman dan bersih di sekolah sehingga mereka akan dapat mendapatkan makanan yang lebih baik.

Klik disini untuk mendonasikan ke Yayasan Binance Charity.

Klik disini untuk mendonasikan ke program Lunch for Children untuk sekolah Best Quality.