"MUSUH TERBESAR DI MARKET: BUKAN BANDAR, TAPI EGO"
Dalam dunia psikologi dan filsafat, menilai orang lain bodoh bukan berarti otomatis membuktikan kita pintar. Seringkali, itu cuma bias kognitif atau mekanisme pertahanan ego kita aja.
Pintar dan bodoh itu bukan saklar lampu yang cuma punya opsi "on" atau "off". Keduanya ada di dalam spektrum yang sangat luas. Mengakui orang lain bodoh tidak serta-merta menaikkan level kecerdasan kita ke level "pintar". Bisa jadi kita cuma sedikit lebih tahu satu helai rambut dibanding dia.
Orang yang benar-benar pintar biasanya sadar kalau ilmu mereka masih sangat sedikit. Mereka justru sering ragu. Sebaliknya, orang yang pengetahuannya minim sering kali merasa paling tahu dan paling cepat melabeli orang lain "bodoh". Jadi, ketika kita dengan mudah menilai orang lain bodoh, jangan-jangan kita sendiri yang lagi kejebak di puncak ego Dunning-Kruger.
"Gw tahu apa yang TIDAK boleh gw lakukan."
Kita belajar dari blunder mereka supaya modal atau hidup kita nggak ikut hancur. Itu namanya wisdom (kebijaksanaan), bukan sekadar merasa pintar.
Menilai orang lain bodoh sering kali cuma cara ego kita buat merasa aman dan superior secara instan. Di market atau di kehidupan nyata, orang yang sibuk menertawakan "orang bodoh" biasanya bakal jadi target empuk berikutnya bagi market untuk dikuliti.
trader profesional itu bukan orang yang punya akurasi tebakan 100% benar, melainkan orang yang paling lihai menjinakkan egonya sendiri. Mereka tahu kapan harus mengambil untung secukupnya, dan tahu kapan harus menundukkan kepala mengakui kesalahan pas market gak searah.
musuh terbesar di market itu bukan bandar atau exchange, melainkan keserakahan dan kesombongan diri sendiri.
#mindset #RiskManagement
Dalam dunia psikologi dan filsafat, menilai orang lain bodoh bukan berarti otomatis membuktikan kita pintar. Seringkali, itu cuma bias kognitif atau mekanisme pertahanan ego kita aja.
Pintar dan bodoh itu bukan saklar lampu yang cuma punya opsi "on" atau "off". Keduanya ada di dalam spektrum yang sangat luas. Mengakui orang lain bodoh tidak serta-merta menaikkan level kecerdasan kita ke level "pintar". Bisa jadi kita cuma sedikit lebih tahu satu helai rambut dibanding dia.
Orang yang benar-benar pintar biasanya sadar kalau ilmu mereka masih sangat sedikit. Mereka justru sering ragu. Sebaliknya, orang yang pengetahuannya minim sering kali merasa paling tahu dan paling cepat melabeli orang lain "bodoh". Jadi, ketika kita dengan mudah menilai orang lain bodoh, jangan-jangan kita sendiri yang lagi kejebak di puncak ego Dunning-Kruger.
"Gw tahu apa yang TIDAK boleh gw lakukan."
Kita belajar dari blunder mereka supaya modal atau hidup kita nggak ikut hancur. Itu namanya wisdom (kebijaksanaan), bukan sekadar merasa pintar.
Menilai orang lain bodoh sering kali cuma cara ego kita buat merasa aman dan superior secara instan. Di market atau di kehidupan nyata, orang yang sibuk menertawakan "orang bodoh" biasanya bakal jadi target empuk berikutnya bagi market untuk dikuliti.
trader profesional itu bukan orang yang punya akurasi tebakan 100% benar, melainkan orang yang paling lihai menjinakkan egonya sendiri. Mereka tahu kapan harus mengambil untung secukupnya, dan tahu kapan harus menundukkan kepala mengakui kesalahan pas market gak searah.
musuh terbesar di market itu bukan bandar atau exchange, melainkan keserakahan dan kesombongan diri sendiri.
#mindset #RiskManagement