Prediksi pendiri Liquid Capital, Yi Lihua, menarik perhatian karena ia tidak sekadar melihat kelanjutan bull market, tetapi memperkirakan BTC dan ETH berpotensi menghasilkan return lebih dari 3x dalam siklus ini, dengan peluang kenaikan ETH lebih besar daripada Bitcoin. Pernyataan tersebut disampaikan pada 24 Agustus setelah melihat pemulihan pasar yang dinilainya lebih kuat dari perkiraan.

Namun, sudut pandang yang lebih menarik bukanlah apakah angka 3x tersebut benar-benar tercapai.

Pertanyaannya adalah: mengapa ETH berpotensi mengungguli BTC ketika institusi baru saja kembali agresif membeli aset kripto?

Modal institusional mulai melebar

Pekan 17–21 Agustus memberikan petunjuk penting. ETF spot Bitcoin AS menerima sekitar US$1,92 miliar, sementara ETF Ethereum memperoleh sekitar US$697 juta. Gabungan keduanya mencapai sekitar US$2,6 miliar, menjadi salah satu pekan arus masuk terkuat sejak Oktober 2025.

Bitcoin sendiri sempat menyentuh sekitar US$79.455, sedangkan ETH kembali berada di atas US$2.400.

Yang berubah adalah arah modal.

Pasar tidak lagi hanya membeli Bitcoin sebagai aset utama. Eksposur mulai meluas ke Ethereum dan aset digital lainnya. Jika tren tersebut berlanjut, ETH memiliki ruang untuk mengalami catch-up rally yang lebih agresif.

Mengapa tesis ETH menarik?

Ethereum mempunyai katalis yang berbeda dari Bitcoin.

Jika Bitcoin terutama diposisikan sebagai aset moneter digital, Ethereum memiliki tesis tambahan: infrastruktur keuangan on-chain.

Stablecoin, tokenisasi aset, DeFi, dan aplikasi berbasis blockchain semuanya membutuhkan infrastruktur jaringan. Yi Lihua sendiri menempatkan pertumbuhan keuangan on-chain berbasis stablecoin sebagai salah satu peluang utama dalam siklus bullish ini. Ia juga melihat kombinasi AI + Crypto sebagai sumber permintaan baru.

Ini menciptakan dua mesin pertumbuhan berbeda:

BTC → kelangkaan + institusi + likuiditas

ETH → institusi + aktivitas on-chain + stablecoin + tokenisasi

Jika arus modal institusional semakin luas, ETH berpotensi mendapatkan keuntungan dari kedua sisi tersebut.

Tetapi “3x” bukan target yang otomatis tercapai

Di sinilah investor harus membedakan tesis bullish dan kepastian harga.

ETF memang menunjukkan permintaan baru, tetapi sebagian besar kenaikan AUM pekan lalu juga berasal dari apresiasi harga aset yang sudah dimiliki, bukan semata-mata uang baru. Dari sekitar US$23 miliar kenaikan AUM gabungan ETF BTC dan ETH, hanya sekitar US$2,6 miliar yang berasal dari arus masuk bersih.

Artinya, momentum memang kuat, tetapi pasar masih membutuhkan permintaan baru yang berkelanjutan untuk mempertahankan reli.

Kesimpulan

Tesis Yi Lihua menjadi menarik bukan karena angka 3x, melainkan karena ia melihat kemungkinan terjadinya pergeseran fase dalam pasar kripto.

Bitcoin mungkin menjadi pintu masuk modal institusional. Tetapi jika likuiditas kemudian bergerak lebih dalam menuju infrastruktur ekonomi on-chain, ETH dapat menjadi salah satu penerima manfaat terbesar.

BTC mungkin memimpin reli. Namun dalam fase berikutnya, pertanyaan yang lebih menarik adalah apakah ETH mampu mengejar-dan akhirnya mengungguli-Bitcoin dalam persentase kenaikan.

Untuk memvalidasi tesis tersebut, tiga indikator layak diperhatikan: arus ETF ETH, aktivitas jaringan/stablecoin, dan rasio ETH/BTC.