Samsung Wallet dan Stablecoin, Ketika Dompet Digital Mulai Bergerak ke Era Uang On Chain

Samsung Electronics dikabarkan tengah menyiapkan fitur stablecoin untuk Samsung Wallet di sejumlah negara terpilih pada 2026. Jika rencana tersebut terealisasi, langkah ini bukan sekadar penambahan metode pembayaran baru pada smartphone Galaxy, tetapi dapat menjadi sinyal bahwa aset digital mulai bergerak lebih dekat ke aktivitas pembayaran sehari hari.

Namun, sudut pandang yang lebih menarik bukan soal apakah Samsung akan membuat pengguna menjadi pengguna crypto. Pertanyaannya adalah, apakah stablecoin nantinya akan menjadi bagian dari infrastruktur pembayaran yang bahkan tidak terasa seperti crypto.

Dari dompet kartu menuju dompet digital yang lebih luas

Samsung Wallet selama ini berkembang sebagai tempat menyimpan berbagai kebutuhan digital, mulai dari kartu pembayaran hingga tiket dan layanan perjalanan. Pada 2026, Samsung bahkan memperluas fungsi Wallet melalui fitur Trips untuk mengorganisasi tiket, pemesanan, dan informasi perjalanan dalam satu pengalaman.

Samsung juga terus memperluas kemampuan pembayaran. Di Korea Selatan, misalnya, Samsung Wallet menambahkan dukungan kartu American Express untuk pembayaran internasional mulai Februari 2026, melengkapi dukungan Visa dan Mastercard.

Jika stablecoin benar benar masuk ke dalam ekosistem tersebut, evolusinya menjadi menarik. Samsung Wallet tidak lagi hanya menjadi tempat menyimpan kartu, tetapi berpotensi menjadi lapisan antarmuka untuk berbagai bentuk uang digital.

Mengapa stablecoin menjadi semakin menarik

Perkembangan stablecoin saat ini sudah bergerak jauh melampaui dunia perdagangan crypto.

Visa pada April 2026 mengatakan pilot settlement stablecoin mereka telah mencapai annualized run rate sekitar 7 miliar dolar, meningkat 50 persen dari kuartal sebelumnya, dengan dukungan sembilan blockchain.

Mastercard juga mengumumkan pada Juni 2026 bahwa mereka memperluas kemampuan settlement menggunakan stablecoin yang diregulasi. Infrastruktur tersebut mencakup sejumlah stablecoin seperti USDC, PYUSD, USDG, USDP, RLUSD dan SoFiUSD, serta berbagai jaringan blockchain.

Visa bahkan memperkenalkan Visa Stablecoin Platform pada Juli 2026 untuk membantu institusi keuangan, fintech, dan penyedia pembayaran mengelola aktivitas stablecoin seperti penyimpanan, minting dan redemption.

Artinya, perkembangan Samsung tidak berdiri sendiri. Ada perubahan yang lebih besar sedang berlangsung di belakang layar.

Stablecoin mungkin tidak dijual sebagai crypto

Ini bagian yang paling penting.

Pengguna biasa mungkin tidak peduli apakah transaksi mereka menggunakan blockchain Ethereum, Solana, atau jaringan lainnya.

Mereka hanya ingin:

Bayar.

Terima uang.

Kirim uang.

Konversi mata uang.

Selesai.

Jika Samsung mampu menyembunyikan kompleksitas blockchain di balik antarmuka Samsung Wallet, stablecoin dapat digunakan tanpa pengguna harus memahami private key, gas fee, wallet address, atau smart contract.

Dengan model seperti itu, adopsi stablecoin tidak harus datang dari trader crypto.

Ia dapat datang dari pengguna smartphone biasa.

Asia dapat menjadi medan penting

Samsung memiliki basis pengguna yang sangat besar di Asia dan pasar global. Samsung Wallet sendiri telah diperluas ke berbagai negara sejak peluncuran awalnya, meskipun fitur dan ketersediaannya memang berbeda berdasarkan pasar dan perangkat.

Karena itu, implementasi stablecoin kemungkinan tidak dapat dilakukan dengan satu model yang sama di seluruh dunia.

Regulasi lokal, lisensi pembayaran, aturan aset digital, dukungan bank, serta jenis stablecoin yang diperbolehkan akan menentukan negara mana yang dapat memperoleh fitur tersebut lebih dahulu.

Ini juga menjelaskan mengapa konsep "sejumlah negara terpilih" menjadi penting.

Samsung tidak hanya berhadapan dengan persoalan teknologi, tetapi juga persoalan regulasi dan infrastruktur keuangan.

Tantangan terbesar justru ada pada pengalaman pengguna

Stablecoin memiliki keunggulan seperti settlement 24 jam, kemampuan programmable payment, dan potensi efisiensi untuk transaksi lintas negara. Namun penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa pembayaran stablecoin masih menghadapi persoalan pengalaman pengguna, biaya, perlindungan konsumen, dan penyelesaian sengketa dibandingkan jaringan pembayaran tradisional.

Karena itu, keberhasilan Samsung tidak akan ditentukan hanya oleh kemampuan memasukkan stablecoin ke dalam aplikasi.

Yang lebih penting adalah apakah pengguna merasa stablecoin lebih mudah daripada metode pembayaran yang sudah mereka gunakan.

Jika jawabannya iya, adopsinya dapat berkembang secara organik.

Persaingan baru di industri pembayaran

Jika Samsung benar benar membawa stablecoin ke Wallet, persaingannya tidak hanya terjadi dengan perusahaan crypto.

Apple, Google, bank, fintech, Visa, Mastercard, dan perusahaan pembayaran lainnya semuanya memiliki kepentingan dalam menentukan seperti apa uang digital digunakan pada masa depan.

Bahkan Visa dan Bridge telah mengembangkan kartu yang terhubung dengan stablecoin, dengan ekspansi yang direncanakan ke lebih dari 100 negara.

Dengan demikian, smartphone dapat menjadi salah satu arena utama persaingan tersebut.

Dari crypto menjadi infrastruktur

Ada ironi menarik dalam perkembangan ini.

Crypto pada awalnya menawarkan alternatif terhadap sistem keuangan tradisional. Tetapi ketika stablecoin mulai masuk ke perusahaan pembayaran, kartu, fintech, dan kemungkinan dompet smartphone besar, teknologi tersebut justru mulai menjadi bagian dari infrastruktur keuangan mainstream.

Jika Samsung berhasil membuat stablecoin terasa sama sederhananya dengan menggunakan kartu di Samsung Wallet, pengguna mungkin tidak lagi melihatnya sebagai produk crypto.

Mereka hanya akan melihatnya sebagai uang digital yang bekerja.

Dan mungkin di situlah tahap adopsi berikutnya dimulai.

Bukan ketika miliaran orang memahami blockchain, tetapi ketika miliaran orang menggunakannya tanpa perlu tahu bahwa mereka sedang menggunakan blockchain.

Catatan: Hingga saat ini, saya belum menemukan pengumuman resmi Samsung yang secara spesifik mengonfirmasi tanggal peluncuran, negara yang dipilih, stablecoin yang akan didukung, atau mekanisme fitur tersebut. Karena itu, bagian mengenai rencana stablecoin Samsung sebaiknya diposisikan sebagai laporan atau rencana yang masih menunggu konfirmasi resmi, bukan fitur yang sudah tersedia secara global.