Raja Charles III memperingatkan para eksekutif kecerdasan buatan (AI) soal potensi bahaya eksistensial jika teknologi tersebut jatuh ke tangan yang salah.

Peringatan tersebut disampaikan dalam AI Summit yang digelar di Dumfries House, Skotlandia. Pertemuan ini membahas bagaimana AI dapat dikembangkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Mereka yang telah menciptakan teknologi ini sekarang semakin memperingatkan bahwa AI berisiko mengembangkan kemampuan yang lebih gelap, bahkan mungkin untuk mengambil nyawa.” ujar Raja Charles, melansir BBC, Jum'at (18/09).

Pertemuan itu dihadiri Menteri AI Inggris Kanishka Narayan, penasihat Paus, serta perwakilan perusahaan AI seperti Nvidia, OpenAI, dan Anthropic.

Raja Charles juga menyoroti perkembangan kemampuan AI yang semakin pesat, termasuk risiko jika teknologi tersebut disalahgunakan. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ini pun mendorong pembentukan prinsip bersama untuk memandu penggunaan AI di masa depan.

Namun, di sisi lain Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trumpu punya sikap berbeda. Pada beberapa hari lalu ia menyatakan bahaya AI itu cerita bohong atau hoaks yang ia katakan langsung ke CEO Nvidia Jensen Huang lewat sambungan telepon.

-# sumber gambar: Financialtimes dengan gubahan

- Source : #AcademyCrypto