Bitcoin Tertekan Tajam: Bukan Satu Faktor, Ini Kombinasi Tekanan Global

Penurunan harga Bitcoin belakangan ini dipicu oleh rangkaian faktor besar yang terjadi hampir bersamaan. Dari sisi global, memanasnya konflik Timur Tengah antara AS dan Iran mendorong pasar masuk ke mode risk-off, membuat investor menjauhi aset berisiko seperti kripto, apalagi di kondisi likuiditas yang tipis.

Tekanan makin berat setelah Presiden AS menominasikan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed. Sosok Warsh dikenal hawkish, sehingga pasar mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat. Dampaknya langsung terasa pada aset spekulatif, termasuk Bitcoin.

Dari sisi institusional, Bitcoin ETF di AS mencatat outflow sekitar US$1,1 miliar. Arus keluar ini menandakan aksi distribusi besar-besaran dan hilangnya buyer institusi yang sebelumnya menopang harga. Bersamaan dengan itu, sebagian modal berotasi ke aset safe haven seperti emas dan perak, yang sedang reli kuat hingga emas dilaporkan menembus US$5.600.

Tekanan internal market juga tak kalah besar. Leverage tinggi di pasar derivatif memicu likuidasi berantai saat harga mulai melemah. Penjualan dari miner turut memperparah kondisi, ditambah gangguan hashrate akibat badai musim dingin di beberapa wilayah AS. Semua ini diperkuat oleh sentimen makro: kekhawatiran resesi global, isu government shutdown AS, dan pelemahan pasar saham.

Singkatnya, ini bukan crash karena satu berita, melainkan efek domino dari geopolitik, kebijakan moneter, institusi, dan struktur market itu sendiri. Ikuti akun Menjadi Trader untuk insight market yang lebih jernih dan kontekstual, agar tidak mudah terjebak panik saat volatilitas datang. #menjaditrader #bitcoin #crypto #marketupdate #macro

NFA, DYOR.