Pasokan stablecoin nyaris tidak bertambah tahun ini — tapi uang di dalamnya bergerak empat kali lipat lebih cepat.
Fakta: CoinDesk (28 Okt) mencatat pasokan stablecoin $305,5 miliar — naik hanya 0,10% selama Oktober dan masih 3,67% di bawah rekor Mei. USDT tetap terbesar di $183 miliar (59,9% pangsa), sementara USDC menyusut $2,08 miliar menjadi $72,3 miliar, sebagian besar dari Ethereum. Di sisi pemakaian, laporan Coinbase dan The Block Pro Research ("The Always-On Dollar", ~20 Okt) mencatat volume transfer bersih kuartal III 2026 mencapai $891 miliar — empat kali lipat dari $216 miliar pada awal 2023, rata-rata lebih dari $400 juta per jam. Data Allium yang dikutip sejumlah media: pembayaran stablecoin $482 miliar selama sembilan bulan pertama 2026, naik 45% dari periode yang sama tahun lalu, sementara pasokannya hanya naik 0,4%.
Opiniku: ini pergeseran dari cerita "berapa banyak yang disimpan" ke "seberapa sering dipakai". Dolar digital yang sama kini berputar untuk pembayaran, payroll, dan penyelesaian lintas batas — dan 73% volumenya terjadi di luar jam bank AS, saat rel tradisional tutup. USDC yang menyusut justru menegaskan seleksinya: pasar tidak lagi menambah pasokan secara membabi buta, ia memilih jalur yang benar-benar dipakai. Tujuh dari sepuluh bank terbesar AS yang sudah menguji stablecoin atau deposito tokenisasi menunjukkan ke mana arahnya, meski dari uji coba ke produk nyata masih ada jarak.
Yang aku pantau: apakah volume kuartal IV bertahan di atas $891 miliar, apakah pasokan USDC berhenti menyusut, dan apakah pilot bank berubah menjadi produk pembayaran yang benar-benar diluncurkan.
Menurut kalian, stablecoin yang makin sering dipakai tapi tidak makin banyak — itu tanda adopsi nyata, atau cuma perputaran uang yang sama?
Ini analisisku, bukan nasihat finansial — DYOR selalu.
#Stablecoin #PembayaranCrypto $USDT
$USDC